Agar Selamat dalam Kehidupan, Inilah Wasiat dalam Surat Lukman

www.griyaalquran.id- Surat Lukman memberikan banyak wasiat kepada kita. Dalam tulisan kemarin, sudah ada 4 wasiat dijelaskan. Wasiat berikutnya, akan dilanjutkan dalam tulisan ini.

Wasiat 5 dan 6 ( Amar Ma’ruf Nahi Munkar )

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). ( QS. Luqman [31]:17).

Abu Sa’id, dia berkata, “Aku mendengar beliau ( Rasulullah ) bersabda, ‘Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, jika tidak mampu maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemahnya iman “ ( Jami’ as-Shahih, Karya Imam Muslim, juz 1, hlm. 50, bab Kauni Nahyi’an al-Munkar, Mansyurat al-Maktab at-Tijari li ath-Thibi’ah wa an-Nasyr, Beirut ).

Baca Juga: Wasiat-wasiat untuk Kita di Surat Lukman (bagian 1)

Para ulama sepakat bahwa hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah Fardhu kifayah. Namun  ada sebagian kecil ulama yang berpendapat bahwa hukumnya adalah fardhu’ain.

Jika sudah jelas bahwa memerintah pada kebaikan juga bermakna mencegah kemungkaran dan sebaliknya, maka logika yang benar menuntut agar nahi munkar lebih didahulukan karena kemungkaran menyebabkan kerusakan dan kebaikan membawa kemaslahatan.

Wasiat 7 ( Sabar Atas Segala yang Menimpa )

Berdasarkan surat Lukman ayat 17 juga mempunyai arti bahwa sabar berarti al-habsu (mencegah, menghalangi, memenjarakan) Sabar juga bisa bermakna al-jara’ah atau keberanian.

Sedangkan menurut al-Ghazali, sabar adalah ungkapan untuk menunjukkan keteguhan tekad serdadu saat menghadapi pasukan musuh, ketika terjadi pertempuran untuk memperjuangkan kepentingan masing-masing. (Ihya’’Ulumu as-Din, al-Ghazali, juz 4, hlm.62,63).

Jika kita meneliti makna sabar, maka sabar di bagi menjadi tiga baian, yaitu sabar dalam taat kepada Allah, sabar dalam meninggalkan maksiat, dan sabar menghadapi ujian dan cobaan yang diberikan oleh Allah.

Wasiat 8 ( Tidak Sombong )

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. Luqman[31]: 18).

Baca Juga: Ternyata, Membaca Al Quran Baik untuk Kesehatan

Dari Ma’bad bin Khalid, dia berkata bahwa mendengar Haritsah bin Wahab al-Khuzai berkata, “Aku mendengar Rassulullah bersabda,’Maukah kalian aku beritahukan tentang ahli surga ? para sahabat menjawab,’Mau.’ Lalu, Rasulullah bebrsabda, ‘Yaitu, setiap orang yang lemah, seandainya dia bersumpah demi Allah, pasti akan dia laksanakan. ‘Lalu, beliau bertannya lagi, Maukah kalian aku tunjukkan ahli neraka ?’ Para sahabat menjawab, ‘Mau.’ Lalu, Rasulullah bersabda, ‘Yaitu setiap orang yang kejam, bengis, dan sombong.” (Shahih Bukhari, juz 6, hlm.197, kitab Tafsir).

Di antara ajaran Islam adalah ajaran akhlak yang mulia yang mengandung manfaat dan kemuliaan, Islam juga tidak hanya menganjurkan pada akhlak mulia tetapi juga melarang akhlak yang tercela. Sebab manusia adalah makhluk yang lemah dan tidak mengetahui hakikat dirinya, sehingga tidak layak neyombongkan diri. Manusia mempunyai kelebihan dan kekurangan.

Sombong adalah sifat Sang Khaliq, sehingga tidak layak makhluk-Nya memilikinya, karena sesuatu yang di sombongkan makhluk-nya tidak kekal dan mudah lenyap.

Wasiat 9 & 10 ( Menyederhanakan Berjalan Dan Melunakkan Suara )

وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ ۚ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ

“Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.( QS. Luqman [31] : 19 )

Sikap lurus yang terdapat dalam ayat ini maknanya tidak hanya lurus dalam berjalan, namun mencakup seluruh persoalan seorang mukmin. Lurus dalam berjalan artinya istiqomah dalam menjalani hidup. Pejalan adalah orang yang melangkah menuju sebuah tujuan, sehingga seorang muslim wajib lurus dalam tujuan dan wasilahnya. Dia tidak boleh menyimpang atau bengkok di luar batasan tujuan syara’.

Wasiat agar merendahkan suara adalah dalil yang jelas betapa dalamnya hikmah. Sebab, siapa yang meninggikan suara, berarti telah dikuasai oleh rasa ‘ashabiyah dan emosi. Oleh karena itu, ketika seorang meninggikan suara berarti dia sedang mengekspresikan fanatisme dan keangkuhan.

Sebaliknya ketika dia berbicara dengan tenang berarti hatinya tenang, pikirannya terkendali, mampu berpikir rasional, dan memahaimi akibat yang timbul dari perbuatan yang ia lakukan.

Oleh karena itu, ketika seorang meninggikan suara berarti dia sedang mengekspresikan fanatisme dan keangkuhan. Sebaliknya ketika dia berbicara dengan tenang berarti hatinya tenang, pikirannya terkendali, mampu berpikir rasional, dan memahaimi akibat yang timbul dari perbuatan yang ia lakukan.

Baca Juga: Ragam Cara Membaca Basmalah di Antara Dua Surat

Tidakkah Anda melihat bagaimana suara keras itu diserupakan dengan suara keledai? Keledai adalah cerminan kebodohan dan buruknya kebodohan.

Ke sepuluh wasiat dalam Al Qur’an ini, akan menyelamatkan kita baik di dunia, maupun kelak di akhirat, sungguh!

Ditulis oleh Aziz Sulthon, Manajer Sahabat Tahfidz Griya Al Qur’an

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
Infaq Dakwah Quran BSM 7133370147INFAQ SEKARANG
+ +
WhatsApp chat