8 Adab Lahiriah Membaca Al Quran

Griya Al Quran – Sebelum membaca Al Quran secara lahiriah, ada delapan adab yang penting diperhatikan agar bacaan wahyu Allah itu bisa menjadi lebih khusyuk dan khidmat.

Syekh Muhammad Jamaluddin al-Qasimi dalam buku “Mau’idhah al-Mu`minin min Ihya ‘Ulumid-Din” (yang disarikan dari kitab Ihya Ulumuddin Imam Ghazali) menjelaskannya dengan cukup gamblang.

Berwudu, menetapi keadaan yang tenang dan penuh kesopanan

Sebenarnya, berdasarkan surah Ali Imran ayat 191, bisa saja –secara hukum- membaca Al Quran dengan tanpa berwudu, dengan tidur berbaring di kasur atau lantai boleh-boleh saja dan mendapat pahala. Hanya saja, secara adab tentu kualitasnya berada di bawahnya.

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS. Ali Imran: 191 )

Kadar bacaan sesuai dengan kemampuan pembaca

Para sahabat dan ulama berbeda-beda dalam kadar bacaan Al Quran. Menurut Utsman, Zaid bin Tsabit, Ibnu Mas’ud dan Ubay, mereka mengkhatamkan Al Quran sekali per Jumat.

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Nabi menyuruh sahabatnya untuk mengkhatamkan Al Quran maksimal 3 hari. Bisa jadi, intensitas dan kuantitas bacaan harus beriring dengan kontinuitas.

Sebab, banyak orang yang dengan modal semangat tinggi, membaca Al Quran dengan jumlah banyak, kemudian futur di tengah jalan. Padahal, amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling istiqomah, meski sedikit.

Baca Juga :   Beginilah Caranya Agar Hati Terpaut dengan Al Quran

Membaca Al Quran secara tartil

Maksudnya, membaca Al Quran secara tertib, tidak tergesa-gesa dan urut dengan baik. Bacaan demikian sangat disunnahkan mengingat tujuan Al Quran adalah untuk ditadabburi.

Bagaimana mungkin bisa direnungi, jika bacaan sangat cepat.  Kata Ummu Salamah, cara Rasulullah membaca Al Quran bagaikan bacaan yang ditafsiri sehuruf demi sehuruf.

Membaca dengan menangis

Tentu menangis di sini bukanlah tangiasan buaya. Tangisan lahir akibat membaca Al Quran secara tartil disertai penghayatan dan perenungan. Orang yang hatinya bersih dan paham makna Al Quran, tidak mungkin matanya tak berkaca-kaca saat membacanya.

Menjaga hak-hak ayat Al Quran

Maksudnya, ketika membaca ayat-ayat sajadah (sujud), maka disunnahka unyuk sujud. Sujud ini dinamakan dengan sujud tilawah. Dalam riwayat lain disebutkan, Rasulullah bertasbih ketika membaca ayat yang berkaitan dengan tasbih, bertakbir ketika membaca ayat tentang takbir. Ketika melalui ayat istighfar, beliau beristighfar pula.

Membaca ta’awwudz terlebih dahulu

Yaitu mengucapkan: “A’udzu billahi minasy-syaithaanir-Rajiim (aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk)”. Menurut Syekh Sya’rawi, ta’awudz semacam alat pemancar bagi TV, jika alat pemancarnya bagus, maka gambar yang dihasilkan juga bagus.

Baca Juga :   Inilah 10 Aplikasi Al Qur’an Android Terbaik

Membacanya dengan perlahan

Bacaan Al Quran secara perlahan bisa menjauhkan seseorang dari perbuatan riya’. Inilah yang lebih utama bagi orang yang khawatir hatinya terjerumus pada perbuatan tercela itu. Tetapi, jika bisa dipastikan tidak bertujuan riya’, maka bacaan dengan keras juga dibolehkan.

Memperbagus bacaan serta menertibkannya

Di dalam hadits disebutkan, “Hiasilah bacaan Al Quran dengan suara-suaramu.” (HR. Abu Daud no. 1468 dan An Nasai no. 1016.)

زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ

Tentu bukan dengan bacaan yang dibuat-buat, tapi bacaan yang disertai dengan tajwid. Dengannya, maka setiap huruf dari ayat Al Quran akan terpenuhi hak-haknya.

Itulah 8 adab lahiriah dalam membaca Al Quran. Semoga, penulis dan pembaca bisa menjaganya setiap kali hendak membaca Al Quran.

Mengapa adab perlu dijaga? Menurut Syekh Jamaluddin –sebagai penutup–, salah satu sebab atau faktor yang membuat Al Quran terjaga dalam hati dan mushaf adalah karena menjaga adab.

Sumber: Suaramuslim.net

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
WhatsApp chat