Hukum Penafsiran Al Qur’an Berlandaskan Opini Belaka

www.griyaalquran.id Pernyataan bahwa Al Qur’an  dapat ditafsirkan dengan opini erat kaitannya pada pembahasan At Tafsir Bir Ra’yi, yang memungkinkan Al Qur’an dapat ditafsir sesuai pemahaman yang muncul dari benak setiap orang. Lalu apakah hukum penafsiran Al Quran dan apakah hal tersebut dibenarkan?

Tafsir adalah keterangan atau penjelasan, dan jika menyangkut tafsir Al-Qur‘an, maka berarti keterangan atau penjelasan tentang ayat-ayat Al Qur’an  agar maksudnya lebih mudah dipahami. Dan apabila ada seseorang yang menafsiri Al Qur’an hanya dengan opini ra’yu (opini) semata, maka orang tersebut dapat dikatakan menyimpang dari ahlul bid’ah dan munafiqin. 

Baca Juga: Doa Agar Tidak Mudah Lupa Saat Menghafal Al Qur’an

Syaikh Manna’ Al Qathan menjelaskan, “Mayoritas yang menggunakan metode ini adalah ahlul bid’ah yang meyakini keyakinan-keyakinan batil. Mereka berbuat lancang terhadap Al Qur’an dengan menafsirkannya sesuai opini mereka, dan mereka dalam hal ini tidak memiliki teladan dari para sahabat Nabi juga para tabi‘in, baik dalam pendapat-pendapat mereka maupun dalam tafsir-tafsir mereka.”

Tafsir demikian biasanya terdapat pemikiran dan keyakinan batil yang diselipkan. Disebutkan Syaikh Manna’ Al Qathan, “Di antara mereka ada yang menggunakan ungkapan-ungkapan yang indah yang menyamarkan mazhab batil mereka yang membuatnya laris di kalangan masyarakat. Sebagaimana yang dilakukan penulis tafsir Al Kasyaf dalam menyelipkan aqidah mu’tazilah di dalamnya.”

Menafsirkan Al Qur’an dengan cara seperti ini, semata-mata dengan akal dan opini tanpa landasan ilmu yang benar, memiliki hukum haram dan terlarang untuk dilakukan. Seperti firman Allah subhanahu wa ta‘ala dalam Al Qur’an Surat Al-Isra’ ayat 36,

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.”

Baca Juga: Menguatkan Pendampingan Korban Terjerat Hutang, SKDA Kunjungi Griya Al Qur’an

Diriwayatkan Ibnu Abbas radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda yang artinya, “Barangsiapa yang berkata tentang Al Qur’an tanpa ilmu, maka siapkanlah tempat duduknya di neraka.”

Jundab bin Abdillah radhiallahu’anhu juga meriwayatkan sabda Rasulullah yang artinya, “Barang siapa siapa yang berkata tentang Al Qur’an sebatas dengan opininya, lalu kebetulan ia benar, maka ia tetap salah.”

Bahkan, generasi terbaik umat Islam, yaitu para sahabat Nabi, para tabi‘in, dan tabiut tabi‘in, juga tidak berani menafsirkan Al Qur’an jika mereka tidak mengetahui tafsirnya. Abu Bakar Ash Shiddiq radhiallahu’anhu pernah ditanyn mengenai makna abban atau al abb dalam Alquran Surat Abasa ayat 31, namun Abu Bakar mengatakan, “Langit mana yang akan menaungiku? Bumi mana yang akan menopangku? Jika aku berkata tentang kalamullah yang aku tidak ketahui (tafsirnya).”

Ath Thabari mengatakan, “Kabar-kabar dari para salaf ini bukti benarnya penyataan kami bahwa penafsiran ayat Al Qur’an tidak bisa diketahui ilmunya kecuali dengan penjelasan Rasulullah, atau dengan adanya dalil yang mendukungnya. Tidak boleh seorang pun berkata tentang tafsirnya hanya dengan opininya. Jika kebetulan perkataannya benar, maka ia tetap salah atas perbuatannya yang berani bicara mengenai tafsir dengan semata opini. Karena perkataannya yang benar tersebut bukanlah kebenaran yang benar-benar ia yakini kebenarannya, melainkan hanya kira-kira dan sangkaan saja. Dan orang yang berbicara masalah agama dengan modal sangkaan, sama saja ia berbicara tentang Allah tanpa ilmu. Dan Allah telah melarang hal itu terhadap hamba-Nya.

Baca Juga: Inilah 6 Fadhilah Menghafal Al Quran

Dengan demikian, jelaslah bahwa menafsirkan Al Qur’an  dengan semata-mata akal dan opini adalah terlarang dan bukanlah teladan dari para salafus shalih. Menafsirkan Al Qur’an yang benar adalah menafsirkannya dengan ayat Al Qur’an yang lain.

Jika tidak terdapat pada ayat yang lain, maka cari penafsirannya pada As Sunnah. Jika tidak terdapat pada As Sunnah, maka cari tafsirnya dari penjelasan para Sahabat Nabi. Jika tidak terdapat pada penjelasan sahabat Nabi, maka merujuk pada penjelasan para tabi‘in. Jika tabi‘in berselisih, maka diambil pendapat terkuat yang sesuai dengan kaidah bahasa Arab dan kaidah tafsir. (nin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
WhatsApp chat