Wanita Sedang Haid, Bolehkah Membaca Al Qur’an?

www.griyaalquran.id- Membaca Al Qur’an, sudah pasti mendatangkan berbagai kebaikan bagi pembacanya. Namun bagaimanakah hukum membaca Al Qur’an bagi muslimah yang sedang haid?

Para ulama berbeda pendapat tentang apakah wanita yang haid boleh membaca Al Qur’an atau tidak? Dalil yang menunjukkan bahwa wanita yang haid boleh membaca Al Qur’an, diantaranya sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha yang akan melakukan umrah akan tetapi datang haid:

ثم حجي واصنعي ما يصنع الحاج غير أن لا تطوفي بالبيت ولا تصلي

“Kemudian berhajilah, dan lakukan apa yang dilakukan oleh orang yang berhaji kecuali thawaf dan shalat.” (HR.Al-Bukhary dan Muslim, dari Jabir bin Abdillah)

Baca Juga: Keutamaan Surat Al Waqiah, Dari Kelapangan Rezeki Sampai Mudahnya Sakaratul Maut

Berkata Syeikh Al-Albany rahimahullahu wa ta’ala:

“Hadist ini menunjukkan bolehnya wanita yang haid membaca AlQur’an, karena membaca Al Qur’an termasuk amalan yang paling utama dalam ibadah haji, dan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah membolehkan bagi Aisyah semua amalan kecuali thawaf dan shalat, dan seandainya haram baginya membaca Al Qur’an tentunya akan beliau terangkan sebagaimana beliau menerangkan hukum shalat (ketika haid), bahkan hukum membaca Al Qur’an (ketika haid) lebih berhak untuk diterangkan karena tidak adanya nash dan ijma’ yang mengharamkan, berbeda dengan hukum shalat (ketika haid). Kalau beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang Aisyah dari shalat (ketika haid) dan tidak berbicara tentang hukum membaca Al Qur’an (ketika haid) ini menunjukkan bahwa membaca Al Qur’an ketika haid diperbolehkan, karena mengakhirkan keterangan ketika diperlukan tidak diperbolehkan, sebagaimana hal ini ditetapkan dalam ilmu ushul fiqh, dan ini jelas tidak samar lagi.” (Hajjatun Nabi hal:69).

Jadi yang rojih (pendapat paling kuat) adalah bolehnya Muslimah yang sedang haid membaca Al Qur’an, yang tidak diperbolehkan bagi muslimah yang sedang haid itu adalah memegang mushaf (Al Qur’an) secara dzatnya.

Baca Juga: Punya Masalah Pelik di Rumah Tangga? Coba Terapi Al Qur’an

Artinya tidak boleh memegang secara langsung. Apabila dengan hafalan, atau Al Qur’an aplikasi yang ada di handphone, maka tidak mengapa karena dari segi dzatnya bukan Al Qur’an yang mutlak kesuciannya sebagaimana Al Qur’an yang ada di masjid-masjid, berdasarkan dalil firman allah subhanahu wa ta’ala

لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُون

“Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang suci.” (QS. Al Waqi’ah: 79)

Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لاَ تَمُسُّ القُرْآن إِلاَّ وَأَنْتَ طَاهِرٌ

Tidak boleh menyentuh Al Qur’an kecuali engkau dalam keadaan suci.” (HR. Al Hakim, beliau mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Dalam keadaan suci di sini bisa berarti suci dari hadats besar dan hadats kecil. Haidh dan nifas termasuk dalam hadats besar.

Baca Juga: Dua Ayat Al Qur‘an Ini Bisa Jadi Bekal Seumur Hidup

Sebagian ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan mushaf yang kita dilarang menyentuhnya adalah termasuk kulitnya/sampulnya karena dia masih menempel. Adapun memegang mushhaf dengan sesuatu yang tidak menempel dengan mushhaf (seperti kaos tangan dan yang sejenisnya) maka diperbolehkan.(byn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
Infaq Dakwah Quran BSM 7133370147INFAQ SEKARANG
+ +
WhatsApp chat