Belajar Tegar dengan Doa Nabi Musa

Oleh: Dr. Zeni Rahmawati, MSc*

Bismillahirrahmaanirrahiim

Al Qur’an memberikan petunjuk bagaimana menghadapi berbagai ujian di dunia melalui kisah para nabi dan teladan orang – orang pilihan. Kisah ketegaran nabi Musa adalah salah satunya. Betapa perjuangan nabi yang namanya paling sering tertulis di Al Qur’an ini menunjukkan sebaik – baik akhlak dalam mengatasi bermacam permasalahan.

Pernahkah kita berada dalam situasi menegangkan sedangkan dalam waktu yang sama kita merasa berada dalam kondisi yang memprihatinkan? Tuntutan perjuangan begitu besar sedangkan kita tak punya apa – apa untuk menghadapinya, rasanya mustahil.

Seperti itulah yang dihadapi Nabi Musa ketika datang perintah dari Allah untuk menghadapi Fir’aun sang pemimpin durjana dengan bala tentara yang kuat luar biasa. Wajar jika Nabi Musa merasa tugas itu di luar kemampuannya mengingat Fir’aun adalah politikus cerdas yang mampu melanggengkan kekuasaannya hingga beberapa kerajaan disekitar mesir mengirimkan pangeran mahkota mereka untuk mendapatkan siasat cerdas Firaun.

Baca Juga: 4 Keistimewaan Bagi yang Gemar Membaca Al Qur‘an

Kebengisan pemimpin zalim inipun sudah melegenda  dengan kebijakannya memperbudak bani israil hingga menyembelih bayi laki – laki yang baru lahir. Bersama dengan Hamman dan Qarun, mereka melenggangkan rezim jahat hingga membuat berbagai kerusakan di bumi Mesir. Tertutupi oleh kesombongan atas kerajaannya itu, Fiarun bahkan memberikan klaim sebagai Tuhan.

Di sisi lain, Musa yang tak memiliki sumber daya berupa harta yang berlimpah-ruah seperti milik bapak angkatnya itu. Sebaliknya, Musa justru mempunyai beban moral karena sejak kecil berada dalam pemeliharaan pasangan Firaun-Asiyah.

Beban itu semakin bertambah mengingat Musa mempunyai catatan buruk pernah membunuh orang meskipun tidak sengaja. Kendatipun sudah melarikan diri ke Madyan sekitar sepuluh tahun lamanya, kemungkinan besar orang – orang Mesir belum sepenuhnya melupakan kejadian tersebut. Rasa – rasanya tugas menyampaikan risalah kepada firaun seperti mission impossible

Jika kita berada di posisi Nabi Musa, rasanya kita sudah menyerah bahkan sebelum melangkah setapak pun. Namun amanah tak pernah salah memilih tuannya, dan Musa adalah hamba pilihan.

Baca Juga: Begini Melafadzkan Huruf Ro’ Tebal dengan Tepat

Menyadari betapa besar tantangan dan sedikitnya kemampuan, Musa tahu bahwa tugas itu datang mendahului kesiapannya. Maka Musa menyampaikan munajat indah dalam Al Qur’an yang akan menjadi pelajaran bagi ummat hingga nanti.

Doa tersebut akan menjadi sebuah pelajaran berharga saat kita merasa tak berdaya dalam  peliknya sebuah keadaan. Munjat indah nabi musa itu terekam dalam surat Thaha ayat 25-30.

Rabbishrahli shadrii, Ya Tuhanku lapangkanlah dadaku.

Saat masalah sedang  menghadang, umumnya pikiran kita terasa sempit dan dada terasa sesak. Kepanikan melanda dan pikiran pun berada dibawah tekanan untuk menemukan solusi agar masalah terurai. Semuanya pun menjadi berat. 

Ketika Musa mendapatkan perintah untuk menghadap Firaun, sudah pasti tergambar bagaimana berat tantangan yang akan dihadapinya. Melihat banyak kekurangan yang dimiliki Musa, sangat wajar jika Musa meminta kerajaan yang besar, tentara yang kuat, atau kekuatan fisik yang tak tertandingi. Musa adalah seorang Nabi, tentunya dia tahu apa yang dia minta. 

Baca Juga: Griya Al Qur’an Gelar Lomba Inovasi Pembelajaran Al Qur’an Nasional

Namun justru Musa meminta kelapangan hati. 

Besar – kecil masalah itu relatif, tergantung bagaimana seseorang memandangnya. Meskpiun masalah itu kecil, bisa mengakibatkan kepayahan yang luar biasa untk orang yang berdada sempit. Sebaliknya, masalah sebesar gunung pun akan dihadapi dengan gagah oleh orang yang berdada lapang.

Doa Nabi Musa ini memberikan sebuah pesan besar kepada kita, sepelik apapun kesulitan yang dihadapi, maka yang pertama kali di pastikan adalah kelapangan dada kita. Karena jika hati terasa ringan, kepala pun akan tenang hingga mampu memikirkan langkah – langkah yang diperlukan.

Jika pun hati masih terasa berat, maka ingatlah bahwa ada Allah sang Maha Pemberi Petunjuk. Tugas kita senagai manusia adalah menghadapi, dan membiarkan Allah yang mengatasi.

Wayassirlii amri, Mudahkanlah urusanku.

Hidup ini dipenuhi dengan cobaan, yang semakin lama – semakin berat. Karena begitulah keniscayaannya, kita diuji dengan ujian  demi ujian untuk semakin meningkatkan level keimanan. Seperti halnya misi yang diemban Nabi Musa, yang kian lama kian berat.

Dari kisah kelahirannya hingga diangkat menjadi Nabi. Sangat wajar jika Musa merasa ujian untuk berdakwah kepada Firaun sangat berat, maka Musa tidak meminta bebannya untu diringankan, tetapi lancarkan segala urusan. Musa tidak memohon agar beban dakwahnya dikurangi, tetapi agar dilancarkan usaha yang diupayakan. 

Baca Juga: Doa Nabi Yunus, Doa Mustajab dalam Al Quran

Wahlul uqdtammil lisani, lepaskanlah kekakuan lidahku.

Dalam satu riwayat, dikisahkan bahwa Musa memiliki kekuranagn fisik berupa lidah yang cadel. Hal ini disebabkan oleh sebuah peristiwa saat beliau masih kecil. Ketika sang Nabi diasuh oleh Asiyah, sang suami tak serta merta menyetujui.

Takwil mimpi yang disampaikan oleh penasehatnya menghendaki untuk membunuh bayi laki – laki. Maka untuk memastikan bahwa menjadikan Musa sebagai anaka angkat bukanlah keputuan yang berbahaya, Firaun menguji Musa dengan memberikan dua pilihan yaitu bara api dan cincin. Musa kecil diberi ilham untuk memilih bara api dan mengulumnya, sehingga lidah beliau terluka dan pada akhirnya menngurangi kemampuan Musa untuk berbicara. 

Musa meneliti kekurangan yang bisa mempengaruhi keberhasilan dalam mengemban tugas beratnya. sehingga memohon kepada Allah agar dipertajam lisannya. Doa ini mengisyaratkan sebuah akhlaq yang mulai, yakni mawas diri. Dengan tugas – tugas yang ada di depan mata, layaknya kita meneladani beliau dengan melakukan instropeksi atas kekurangan diri. 

Baca Juga: Ini Sebabnya Makkah Disebut Ummul Qura

Yafqohuu qouli, agar mereka mengerti perkataanku.

Risalah yang disampakan kepada Musa dan penduduk Mesir adalah sebuah kebenaran dari Allah. Tak ada yang bisa membantah kebenaran, namun tak semua orang mampu menangkapnya. Oleh sebab itu, tugas seorang dai adalah mempelajari bahasa kaumnya.

Maka Musa berharap caranya menyampaikan risalah mampu membuka hati, bukan malah membuat mereka menjauh pergi. Karena kesalahan dalam menyampaikan kebenaran membuatnya sulit untuk diterima. Maka Musa bermunajat agar diberi kemampuan sebuah lisan yang mampu menghantarkan risalah yang mudah dimengerti dan dipahami oleh sasaran dakwahnya.

Orang di luar Islam tidak membaca ayat Al Qur’an, tidak mengkaji hadist, ataupun menelaah aturan Islam. Maka penilaian mereka terhadap Islam berasal dari perilaku pemeluknya. Maka kita sebagai muslim, harus memperhatikan perliku dan adab kita apakah sudah sesuai dengan yang disyariatkan. Pun kita harus berhati – hati dalam menyampaikan ajaran Islam dengan cara yang benar dan mudah. Janganlah kita menggambarkan aturan Islam sebagai sesuatu yang sulit nan menyusahkan. 

Waj’al lii waziiram min ahli, haaruna akhii. Dan jadikanlah untukku seorang pendamping dari keluargaku. Yaitu Harun saudaraku.

Musa memohon pendamping kepada Allah untuk menemaninya menghadap Firaiu, yaitu suadaranya sendiri Nabi Harun. Nabi Musa tentu mengenal dan mengetahui kemampuan Nabi Harun yang mempunyai kelebihan dalam berbicara.

Hikmah dari kisah ini adalah bahwa seorang Dai justru senang ketika ada teman dalam berdakwah. Pun merasa bahagia jika ada yang mempunyai kemampuan lebih agar bergerak bersama dalam memberikan manfaat yang lebih besar.

Setiap orang mempunyai skill yang yang berbeda, begitu juga dengan dai. Terdapat Dai yang sangat mumpuni di bidang tafsir Al Qur’an, di lain pihak terdapat ulama yang mempelajari hadist secara dalam, sedangkan disisi yang lain terdapat ulama yang sangat pandai dalam bidang komunikasi.

Maka seyogyanya semua berdakwah secara bersama ssesuai dengan keahlian masing – masing. Begitu pula dengan adanya organisasi – organisasi islam yang memunyai titik kerja yang berbeda beda, dalam pendidikan, budaya,  social maupun politik. Kesemuanya hendaknya saling menyokong, bukan melebihkan perbedaan sehingga muncul perasaan yang satu lebih baik dari yang lain. 

Baca Juga: Perlu Tahu, Inilah Berbagai Kisah dalam Surah Maryam

Dari keempat doa ini, kita bisa melihat kepribadian Nabi Musa yang luar biasa. Ketika merasa tugas yang diemban melebihi kemampuan, maka sang Nabi bermunajat dengan menyampaikan hasil instropeksi diri dan memohon dilancarkan upaya nya ke depan. Tugas besar tak membuat Musa gentar, semua dihadapi dengan tegar. 

Tugas dan ujian kita bisa jadi bagaikan langit ketujuh dan inti bumi dengan tantangan yang diberikan kepada Musa. Namun bukankah kisah – kisah dalam Al Qur’an diperuntukkan bagi generasi kemudian dalam mengambil teladan? Maka semoga kita bisa meneladani doa sang Nabi, hingga sebesar apapun masalah yang kita hadapi, kita tegar karena ada Allah yang Maha Besar. {}

*(penulis buku Diary Sang Pemimpi dan Skotlandia, I’m in Love)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Infaq Dakwah Quran BSM 7133370147INFAQ SEKARANG
+ +
WhatsApp chat