Griya Al Qur’an, Menggagas Tahfiz Alquran secara Online saat Covid-19

Semua orang diimbau untuk beraktivitas di rumah saja selama pandemi Covid-19 ini. Termasuk beribadah selama Ramadan yang segera datang. Griya Al-Qur’an membuka bimbingan membaca dan menghafal kitab suci ini sebagai bekal orang tua saat beribadah di rumah bersama keluarga.

LUGAS WICAKSONO, Surabaya

Falah Al Burhani mendengarkan hafalan surah Al Kahfi peserta tahfiz Alquran online melalui video call WhatsApp (WA) di Griya Al-Qur’an, Jalan Dinoyo, Keputran, Tegalsari, kemarin (22/4).

Sesekali dia membetulkan lafal ayat yang dihafalkan peserta tersebut. Di sampingnya, Khoirul Huda beraktivitas serupa. Aktivitas mereka berlangsung sejak pagi pukul 06.30 hingga malam pukul 21.00. Selama tiga hari, mulai Selasa (21/4) hingga Kamis (23/4).

Bimbingan hafalan Alquran secara daring menjelang Ramadan itu dilakukannya bersama 15 pengajar lain yang tergabung di Griya Al-Qur’an .

Huda yang menjadi penanggung jawab akademik Griya Al-Qur’an mengungkapkan bahwa sebenarnya mereka sejak Januari merancang program hafalan Alquran secara tatap muka menjelang Ramadan. Situasi akhirnya memaksa mereka mengubah teknis pengajaran dari tatap muka menjadi daring .”Kami akhirnya sepakati cara online di tengah pandemi Covid-19 ini,” ucap Huda.

Dia sempat ragu program tahunan itu bisa berjalan saat memutuskan didaringkan. Tidak dimungkiri, sebagian pengajar hafalan Alquran masih gagap teknologi. Selain itu, khawatir membingungkan peserta. Namun, di luar dugaan, hafalan daring itu diminati banyak orang. Lebih dari 1.100 peserta mengikuti bimbingan daring tersebut.

Pesertanya diklaim berasal dari seluruh Indonesia. Tidak sedikit WNI dari berbagai negara turut serta. Antara lain, dari Malaysia, Jepang, Amerika Serikat, Singapura, dan Inggris. Jauh lebih banyak dari peserta tatap muka tahun-tahun sebelumnya yang rata-rata 350 orang. Huda mengklaim masih banyak yang ingin berpartisipasi. Tetapi karena keterbatasan pengajar, jumlah peserta dibatasi. ”Dulu peserta tatap muka jarang masuk karena kesibukan. Tapi, ketika program tahfiz online ini justru menjadi lebih aktif karena waktunya fleksibel,” katanya.

Dua metode digunakan dalam bimbingan hafalan Alquran daring itu. Pengajar memberikan materi secara daring. Selanjutnya, peserta diminta mengirimkan rekaman suara hafalan melalui WA. Selain itu, peserta bisa melafalkan surah yang telah dihafalkan secara tatap muka melalui video call. ”Alasan kami pakai WA karena aplikasi yang paling banyak digunakan. Peserta supaya tidak bingung,” ujarnya.

Hafalan Alquran secara daring itu khusus untuk peserta usia dewasa. Bimbingan tersebut bertujuan sebagai bekal orang tua menyambut Ramadan. Di tengah pandemi ini, semua diharuskan beribadah dari rumah. Kepala keluarga dituntut mengimami keluarga, termasuk anak-anaknya, ketika salat berjamaah di rumah. Termasuk tarawih dari rumah. Dia tidak ingin orang tua hanya membacakan surah-surah pendek ketika mengimami di rumah. ”Ayah ketika salat di rumah sudah harus mengimami. Masak bacaan surahnya itu-itu saja. Melalui program ini, peserta menghafal sepuluh ayat surah Al Kahfi,” ungkap Huda.

Selain itu, kini anak-anak kerap lebih mahir dalam membaca Alquran jika dibandingkan dengan orang tuanya. Alasan itulah yang memicu peserta ingin belajar membaca dan menghafal kitab suci ini. ”Anak biasanya justru membetulkan orang tuanya saat membaca surah ketika salat di rumah,” ucapnya.

Pengajar maupun peserta bisa melaksanakan bimbingan hafalan daring itu dari mana saja. Pengajar tidak harus datang ke Griya Al-Qur’an atau masjid. Begitu pula pesertanya. Waktunya juga fleksibel, mulai pagi hingga malam. Satu pengajar membimbing hingga 60 peserta secara daring. ”Tidak jarang HP (handphone) tutor sampai hang karena banyak menerima voice note dari peserta,” tambah Falah yang dipercaya menjadi pimpinan program tahfiz online.

Pengajar juga membimbing peserta mengenai cara membaca Alquran secara baik dan benar. Pengajar akan membantu mengajari peserta yang sama sekali tidak bisa membaca kitab suci tersebut.

”Kami buat level II sampai VI. Sebagian besar ketika pertama mendaftar masih berada di level II dalam membaca Alquran karena misal panjang pendeknya harus diperhatikan. Kalau ada yang tidak bisa sama sekali, kami akan bimbing,” tutur Huda.

Falah menambahkan, hanya dalam waktu tiga hari, peserta sudah bisa menghafal sepuluh surah. ”Progresnya bagus, tiga hari sudah bisa hafal. Kalau yang tatap muka dua jam sudah bisa hafal,” katanya.

Salah seorang peserta Murbanun merasa terbantu dengan adanya bimbingan hafalan Alquran daring tersebut. Ibu rumah tangga berusia 72 tahun itu mengaku sudah lama ingin mengaji, tetapi takut karena tidak bisa. ”Dengan program ini, Insya Allah akan mendaftar kelas reguler. Tak naik sepeda onthel karena jaraknya lumayan dari rumah,” kata perempuan asal Sambikerep itu.

Falah berharap program hafalan secara daring itu akan terus berlanjut. Dia bersama kolega-koleganya di Griya Al-Qur’an juga berencana membuat program jangka panjang untuk bimbingan daring. Meski kelak pandemi korona berakhir, program itu akan tetap dilanjutkan karena dirasa cukup membantu bagi orang-orang yang ingin belajar mengaji.

Editor : Dhimas Ginanjar
Reporter : */c6/git

Jawa Pos, Minggu, 26 April 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
Infaq Dakwah Quran BSM 7133370147INFAQ SEKARANG
+ +
WhatsApp chat