100 Kosa Kata Al Qur’an Akan Diserap Menjadi Bahasa Indonesia

www.griyaalquran.com- 100 kosa kata atau istilah yang ada dalam Al Qur’an akan masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Hal ini termuat dalam agenda penyempurnaan terjemahan Al Qur’an oleh Kementerian Agama RI pada 8 Juli 2019 lalu.

Dalam kegiatan itu Kemenag tak luput mengajak serta Balai Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayan (Kemendikbud) dalam proses penyempurnaan tersebut. Hal ini seperti diungkapkan Dora Amelia, perwakilan Balai Bahasa Kemendikbud dalam sambutannya pada pembukaan Ijtimak Ulama Al Qur’an di Bandung, Senin, 8 Juli 2019 lalu.

“Atas keterlibatan Balai Bahasa dalam program penyempurnaan terjemahan Al Qur’an kali ini, 100 istilah baru masuk dalam KBBI,” ungkap Dora.

Istilah baru yang akan diserap menjadi Bahasa Indonesia ini adalah kosa kata atau istilah keagamaan yang disebutkan dalam Al Qur’an. Pernyataan ini sekaligus dikukuhkan oleh penjelasan Ketua Lajnah Pentashihan Mushaf Muchlis Hanafi.

Baca Juga: Hikmah Membaca Minimal Sepuluh Ayat Al Quran Tiap Malam

Muchlis menambahkan, 100 kata tersebut merupakan sumbangsih Al Qur’an untuk memperkaya bahasa Indonesia. Selain itu, hal ini juga salah satu usaha para tim pakar agar makna Al Qur’an sendiri tidak terdistorsi, sehingga ada beberapa kata yang harus diserap terlebih dahulu ke dalam KBBI, selanjutnya dalam KBBI tersebut dijelaskan definisinya secara rinci.

Masuknya 100 kosa kata Al Qur’an ke dalam KBBI ini merupakan hasil kerja para ulama dalam menyusun penyempurnaan terjemahan Al Qur’an Kemenag yang dipungkasi dengan Ijtimak Ulama Al Qur’an” pada 8-10 Juli 2019 di Bandung.

Ijtimak Ulama Al Qur’an Tingkat Nasional tahun ini mengambil tema Uji Sahih Terjemahan Al Qur’an Edisi Penyempurnaan dan diikuti oleh 110 peserta yang terdiri dari para ulama, akademisi, dan pemerhati kajian tafsir dan ilmu Al Qur’an, baik dari unsur Kementerian Agama RI, Majelis Ulama Indonesia, Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kemendikbud RI, dosen perguruan tinggi Islam, ulama dan pengasuh pondok pesantren, Asosiasi Ilmu Al-Qur’an, dan Pusat Studi Al Qur’an.

KBBI Resmikan “Al-Qur’an” dan “Ka’bah” Sebagai Kata Baku, Bukan Lagi “Alquran” dan “Kakbah”

Selain akan bertambahnya ratusan kosa kata Al Qur’an baru dalam KBBI, Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga mengumumkan bahwa pihaknya akan mengganti kata baku Alquran dan Kakbah dalam KBBI menjadi Al-Qur’an dan Ka’bah.

Baca Juga: Al Qur‘an Berbicara Anjuran Bergembira atas Kelahiran Rasulullah

Hal ini menyusul dilakukan setelah Kemendikbud melalui Balai Pengembangan Bahasa merespons surat dari Lajnah Pentashihan Mushaf Al Qur’an (LPMQ) tentang pengajuan pembakuan istilah dalam Al Qur’an ke KBBI yang bernomor B-25/LPMQ.1/TL.2.I/01/2019/.

Balai Pengembangan Bahasa dalam surat tersebut menyebut menerima dan menolak beberapa tawaran atau ajuan terkait pembakuan istilah dalam Al Qur’an, di mana salah dua ajuan yang diterima tersebut adalah mengubah kata Alquran dan Kakbah menjadi Al-Qur’an dan Ka’bah.

“Penulisan Alquran dan Kakbah dalam KBBI akan diubah menjadi Al-Qur’an dan Ka’bah sesuai dengan usulan LPMQ,” tulis Badan Pengembangan Bahasa dalam surat keterangannya tersebut.

Baca Juga: Semangat Membumikan Al Qur’an, Griya Al Qur’an Resmi Buka Cabang Ke-24

Salah seorang anggota LPMQ, Bagus Purnomo menyebut, bahwa memang salah satu alasan pengajuan dari LPMQ tersebut adalah karena serapan yang digunakan KBBI kurang pas, khususnya dalam hal ejaan.

“Itu bermula dari temuan tim penyempurna terjemah. Ada beberapa kata serapan dari bahasa Arab dalam Al Qur’an yang diserap bahasa Indonesia dengan ejaan yang terasa kurang pas di telinga santri,” ujar Bagus Purnomo seperti dilansir dari Islamidotco.

Selain dua kata tersebut, ada juga beberapa kata baru lain yang sebelumnya belum masuk sama sekali dalam KBBI, misalnya, Baitulmaqdis, Lailatulqadar, Masjidilaqsha, dan riya untuk membedakan dengan ria, begitu juga maqam untuk membedakan dengan makam.

Baca Juga: Begini Al Qur‘an Menyebutkan Tentang Difabel

Terkait beberapa usulan kata yang kemudian ditolak atau diberikan koreksi oleh Badan Pengembangan Bahasa, Bagus menilai bahwa hal itu disesuaikan dengan kaidah penyerapan dalam bahasa Indonesia, “Pertimbangan Badan Bahasa tentu saja kaidah penyerapan kosa kata asing yang selama ini mereka pakai untuk dibakukan dalam KBBI,” tutur Bagus.

Meski surat keterangan telah menyebutkan begitu, berdasarkan penelusuran penulis melalui situs daring KBBI resmi di kbbi.kemendikbud.go.id, pembaruan beberapa kata baku ini belum sepenuhnya tersedia di KBBI versi daring untuk saat ini (saat artikel diterbitkan). (nin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
Infaq Dakwah Quran BSM 7133370147INFAQ SEKARANG
+ +
WhatsApp chat