4 Tipe Manusia Saat Berinteraksi dengan Al Qur’an

Griyaalquran.id – Akhlak seseorang biasanya tercermin dari kedekatannya dengan Al Qur’an. Ada empat tipe manusia saat berinteraksi dengan Al Qur’an.

Mengimani sepenuhnya

Tipe manusia atau golongan ini adalah golongan yang paling utama, dimana mereka mengimani dan mengikuti sepenuhnya apa yang terkandung di dalam Al Quran.

Selain membacanya mereka juga menghalalkan apa yang dihalakan dan mengharamkan apa yang diharamkan serta menjalankan seluruh konsekuensi hukum yang ada.

Allah berfirman di dalam surat Al Baqarah ayat 121,

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَٰئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ ۗ وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Orang-orang yang telah kami berikan al kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barang siapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” [Surat Al-Baqarah 121]

Baca Juga: Begini Tips Mengajak Keluarga Gemar Membaca dan Menghafal Al Quran

Menjadikan Al Qur’an sebagai wirid

Bagi golongan ini mereka pantang meninggalkan Al Qur’an dalam kesehariannya. Mereka terus membiasakan lisannya terus basah dengan tilawah, tidak meninggalkan bacaan Al Qur’an meski hanya sehari kecuali ada uzur syari. Membuat waktu khusus untuk membaca Al Qur’an dan tidak tersibukkan dengan perkara lain.

Allah gambarkan dalam firmannya, bahwa banyak orang beralasan karena sakit sehingga tidak baca Al Qur’an, karena kesibukan kerja dan mungkin ada yang beralasan disibukkan dengan jihad di jalan Allah kemudian lalai dari membaca Al Qur’an. Namun Allah mengingatkan agar terus membaca Al Qur’an meski dari surat atau ayat yang mudah.

إِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ أَدْنَىٰ مِنْ ثُلُثَيِ اللَّيْلِ وَنِصْفَهُ وَثُلُثَهُ وَطَائِفَةٌ مِنَ الَّذِينَ مَعَكَ ۚ وَاللَّهُ يُقَدِّرُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ ۚ عَلِمَ أَنْ لَنْ تُحْصُوهُ فَتَابَ عَلَيْكُمْ ۖ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ ۚ عَلِمَ أَنْ سَيَكُونُ مِنْكُمْ مَرْضَىٰ ۙ وَآخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِي الْأَرْضِ يَبْتَغُونَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ ۙ وَآخَرُونَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ ۚ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا ۚ وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا ۚ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Muzzammil :20)

Bersemangat mempelajari dan mendekat dengan Al Qur’an

Tipe ketiga ini para pemburu rahmat Allah ta’ala karena Al Qur’an. Mereka yang terus mencoba belajar Al Qur’an meskipun sebagiannya belum mahir dalam membacanya. Karena itu semangatnya harus terus menyala dalam dada para pembelajar Al Qur’an. Bahkan bagi mereka yang mau menyimak bacaan Al Qur’an, Allah janjikan bagi mereka rahmat-Nya, apalagi bagi yang terus mempelajarinya.  

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.”  (QS. Al-A’raf 204)

Baca Juga: Akhirnya Kritikus Barat Temukan Kesalahan dari Al Qur’an

Dikisahkan, ada seorang pemuda yang ingin menimba ilmu pada seorang guru. Sang guru kemudian meminta pemuda itu mengisi ember dengan keranjang kotor. Sang murid ini bergumam, mana mungkin bisa mengisi ember dengan keranjang yang berlubang?

Tapi ia tetap saja menjalankan perintah sang guru. Pemuda ini berlari dengan kencang mengambil air dengan keranjang dari sungai untuk diisikan ke ember. Sekali dua kali terus ia lakukan perintah gurunya, tapi tidak membuahkan hasil. Kemudian ia percepat larinya namun nol yang didapat. Sampai akhirnya ia kembali pada sang guru dan menyerah. Ia katakan bahwa sia-sia saja apa yang telah dilakukan.

Melihat hal itu, sang guru tersenyum dan berkata, wahai muridku tidak ada yang sia-sia dari usahamu. Lihatlah keranjangmu tadi ia penuh dengan lumpur tapi sekarang bersih tidak ada kotoran sedikitpun. 

Begitulah analogi mereka yang mau belajar al quran, bisa jadi sudah berbulan-bulan belajar tapi belum juga lancar membaca Al Quran. Jangan menyerah dan yakinilah bisa jadi dari setiap huruf yang kita lantunkan dengan terbata bata itu Allah bersihkan dosa-dosa yang pernah kita lakukan, serta dilembtukan hati kita dan Allah turunkan rahmat-Nya.

Mencampakkan Al Qur’an “Mahjuro”

Inilah golongan yang semoga kita terhindar darinya. Sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengadukan penyakit ini kepada Allah.

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

Berkatalah Rasul, “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran ini mahjura” (QS. Al Furqan: 30)

Baca Juga: Betah di Rumah karena Lantunan Al Quran

Ibnul Qayyim Al Jauziyah menjelaskan bahwa sikap mahjura bisa berwujud dalam lima bentuk sebagai berikut:

  1. Tidak tekun mendengarkannya.
  2. Tidak mengindahkan halal dan haramnya walau dipercaya dan dibaca.
  3. Tidak menjadikannya rujukan dalam menetapkan hukum menyangkut prinsip-prinsip agama dan perinciannya.
  4. Tidak berupaya memikirkan dan memahami apa yang dikehendaki Allah yang menurunkannya.
  5. Tidak menjadikannya sebagai obat bagi penyakit-penyakit hati

Sudahkah kita suka membaca dan mendengarkan Al Quran? Sudahkah kita berusaha tilawah satu hari satu juz? Marilah kita merenungkan kondisi kita saat ini, termasuk golongan manakah kita?

Ditulis oleh Nur Hasan, Direktur Operasional Griya Al Qur’an

2 thoughts on “4 Tipe Manusia Saat Berinteraksi dengan Al Qur’an

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
Infaq Dakwah Quran BSM 7133370147INFAQ SEKARANG
+ +
WhatsApp chat