Al Qur’an dengan Terjemah Bahasa Daerah untuk Membumikan Al Qur’an

www.griyaalquran.id – Upaya membumikan Al Qur’an bisa dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan menerjemahkannya menggunakan bahasa daerah bertujuan agar masyarakat bisa lebih memahami Al Qur’an dengan mudah.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin pada akhir tahun 2018 meluncurkan Al Qur’an terjemah dengan tiga bahasa daerah, yaitu bahasa Aceh, Bugis, dan Madura.

Baca Juga: Ingin Bersuara Merdu Saat Membaca Al Qur’an? Simak Penjelasan Ini

Peluncuran Al Qur’an terjemah tiga bahasa daerah tersebut melengkapi 13 Al Qur’an terjemahan bahasa daerah lainnya yang sudah diluncurkan. Di antaranya yaitu bahasa daerah Jawa Banyumasan, Bahasa Sasak, Bahasa Makassar, Bahasa Kaili, Bahasa Minang, Bahasa Dayak Kanayant, Bahasa Batak Angkola. Juga ada Bahasa Toraja, Bahasa Bolaang Mongondow, Bahasa Bali, Bahasa Ambon, Bahasa Banjar, dan Bahasa Osing (Banyuwangi, Jatim).

Menurut Lukman, selain agar semakin membumikan Al Qur’an. Penerjemahan Al Qur’an ke dalam bahasa daerah ini juga bertujuan untuk melestarikan bahasa daerah dan juga melestarikan budaya-budaya yang ada di Indonesia.

Lukman memberikan apresiasi kepada para penerjemah Al Qur’an ke bahasa daerah yang telah bekerja selama bertahun-tahun. Namun, terjemahan ke bahasa daerah itu hanya merupakan karya manusia, sehingga kebenarannya tidak absolut. Karena itu, masyarakat jangan salah tanggap terhadap peluncuran Al Qur’an terjemahan bahasa daerah ini.

Peluncuran Al Qur’an terjemah tiga bahasa daearah mengambil tema ‘Literasi Alqur’an untuk moderasi agama’. Tema ini penting agar kehadiran Al Qur’an terjemah ini dapat memperkuat misi Kemenag yang terus merespon dinamika masyarakat agar terus hidup rukun dan damai dalam bingkai NKRI.

Baca Juga: Dibuka!! Cabang Baru Griya Al Quran di Wilayah Ampel

Mengutip dari Republika.co.id, selain tujuan yang sudah disebutkan di atas, masih ada beberapa tujuan terkait Al Qur’an diterjemahkan ke dalam bahasa daerah. Pertama, kitab suci agama harus didekatkan dengan umatnya, supaya umat memiliki kedekatan dengan teks suci agamanya.

Kedua, karena Indonesia merupakan negara dengan beragam suku dan budaya, maka diterjemahkan dengan bahasa daerah, agar tidak cepat punah. Bahasa daerah itu penting dilestarikan karena memiliki nilai luhur yang dipraktekkan pendahulu

Tujuan ketiga yaitu untuk moderasi agama. Menurutnya, tantangan umat sekarang adalah menguatnya intoleransi dalam praktek beragama. Lukman menegaskan, hal ini terjadi karena kurangnya pemahaman terhadap ruh agama sebagaimana termaktub dalam kitab suci.

Baca Juga: Menghafal Mudah Jika Memahami Etika Menghafal Al Quran

Harapan untuk ke depannya adalah agar Kemenag mampu sebnayak mungkin melakukan penerjemahan Al Qur’an dalam berbagai bahasa daerah. (Gth)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
WhatsApp chat