Inilah 6 Adab Menuntut Ilmu yang Wajib Diketahui

www.griyaalquran.id – Dalam agama Islam, banyak sekali pembahasan mengenai berbagai aspek kehidupan, etika dan adab, seperti halnya dalam mempelajari suatu ilmu. Orang yang sedang menuntut ilmu sudah pasti menginginkan suatu kemanfaatan, keberkahan, kepahaman, dari apa yang dipelajari.

Karena begitu pentingnya sebuah adab dalam Islam muncullah berbagai pepatah Arab yang  berkaitan dengan adab dan ilmu, salah satunya, “Kemuliaan itu adalah karena adab kesopanan, bukan karena keturunan.”

Hal ini juga diajarkan rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya. Berikut di antara adab-adab yang selayaknya diperhatikan ketika seseorang menuntut ilmu.

Baca Juga: 100 Kosa Kata Al Qur’an Akan Diserap Menjadi Bahasa Indonesia

Pertama, Niat dengan Ikhlas Mencari Ilmu

Seorang yang mencari ilmu hendaknya berniat ikhlas untuk mencari Ridha Allah dan membersihkan hatinya dari perangai buruk.

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali agar beribadah hanya kepada Allah dengan memurnikan ketaatan hanya kepadaNya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan memurnikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. al-Bayyinah: 5)

Sedangkan orang yang menuntut ilmu dengan maksud mencari persaksian/gelar demi mencari kedudukan dunia atau jabatan maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

“Barang siapa yang menuntut ilmu yang seharusnya hanya ditujukan untuk mencari wajah Allah ‘azza wa jalla tetapi dia justru berniat untuk meraih bagian kehidupan dunia maka dia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat.”

Kedua, Bersungguh-Sungguh dalam Mencari Ilmu

Manfaatkanlah waktu, kesempatan yang Allah swt berikan untuk memperoleh ilmu, tanpa terpedaya oleh rayuan “menunda-nunda” dan “berangan-angan panjang”. Seorang murid hendaknya memutus sebisanya urusan-urusan yang menyibukkan dan menghalang-halangi sempurnanya belajar.

منهومان لا يشبعان : طالب علم و طالب دنيا

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam barsabda, “Ada dua orang yang begitu rakus dan tidak pernah merasa kenyang: (1) penuntut ilmu (agama) dan (2) pencari dunia.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrok 1: 92. Dishahihkan oleh Al Hakim dan disepakati oleh Imam Adz Dzahabi).

Baca Juga: Hikmah Membaca Minimal Sepuluh Ayat Al Quran Tiap Malam

Kuatnya kesungguhan dan keseriusan dapat menghasilkan ilmu, maka hendaklah bersungguh-sungguh dalam usaha dan diiringi dengan doa. Itulah yang wajib dimiliki oleh para penuntut ilmu, sehingga dapat menguasai ilmu yang diperoleh. Karena menguasai ilmu dengan hanya sebatas tahu itu berbeda.

Ketiga, Rajin Berdoa kepada Allah ta’ala

Doa adalah kunci dari sebuah kesuksesan serta senjata bagi orang mukmin. Maka dari itu, mohonlah kepada Allah untuk diberi kepahaman, kemudahan serta ilmu yang bermanfaat. Seperti halnya doa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam 

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal, dan amal yang diterima.” (Hadits Shahih. Diriwayatkan oleh al-Humaidi (1/143) no. 299, Ahmad (6/322), Ibnu Majah no. 925)

اَللَّهُمَّ انْفًًًًًًََعْنِيْ مَا عَلَّمْتَنِيْ وَعَلِّمْنِيْ مَا يَنْفَعُنِيْ وَزِدْنِيْ عِلْماً

“Ya Allah, berikanlah manfaat kepadaku dengan apa-apa yang Engkau ajarkan kepadaku, dan ajarkanlah aku apa-apa yang bermanfaat bagiku dan tambahkanlah ilmu kepadaku.”(Hadits Shahih. Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi no. 3599 dan Ibnu Majah no. 251, 3833 dari Abu Hurairah)

Baca Juga: Al Qur‘an Berbicara Anjuran Bergembira atas Kelahiran Rasulullah

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دُعَاءٍ لَا يُسْمَعُ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusu’, nafsu yang tidak pernah puas, dan do’a yang tidak dikabulkan.” (Hadits Shahih. Diriwayatkan oleh Muslim no. 2722 dan An Nasaa-i (8/260) dari Sahabat Zaid bin Al Arqam)

Keempat, Jauhkan Diri Dari Dosa Dan Maksiat

Ilmu adalah cahaya, sedangkan cahaya Allah tidak akan mungkin diberikan kepada hambanya yang suka berbuat dosa dan maksiat. Jika hati dan diri kita masih kotor, maka akan sulit menerima, memahami ilmu, bahkan bisa mematikan hati dan mendatangkan siksa Allah ta’ala.

Untuk menghindari dari dosa dan maksiat kita dapat mengatasinya dengan rajin mendekat kepada Allah swt. missal dengan membersihkan diri dari akhlak-akhlak tercela: dengki, riya, ujub, meremehkan orang lain, dendam, benci, memfitnah orang, berdusta, berkata jorok ataupun lainnya.

Kelima, Memperhatikan Guru

Perhatikan, diam, tulislah, dan dengarkan baik-baik ilmu yang disampaikan ustadz, syaikh atau guru. Hal itulah yang membuat ilmu dapat dengan cepat terserap oleh kita.

Baca Juga: Begini Al Qur‘an Menyebutkan Tentang Difabel

Dengan kita menulis artinya kita telah menjaga agar ilmu yang disampaikannya tidak hilang dan terus tertancap dalam ingatan dan mudah setiap kali jika kita ingin mengulangi pelajaran tersebut.

 “… sebab itu sampaikanlah berita gembira itu kepada hamba-hambaKu, (yaitu) mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya. Mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan merekalah orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (QS. az-Zumar: 17-18)

قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ

Dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ikatlah ilmu dengan tulisan.” (HR. Ibnu ‘Abdil Barr).

Keenam, Amalkan Ilmu yang telah Diperoleh

Amal merupakan buah ilmu dan hasil yang dipetik dari ilmu, seorang yang mengemban ilmu adalah ibarat orang yang membawa senjatanya, bisa jadi senjatanya itu dipakai untuk membela dirinya atau justru untuk membinasakannya.

Baca Juga: Mencegah Santet, Guna-guna, dan Sihir Dengan Bacaan Al Quran

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan seorang alim yang mengajarkan kebaikan kepada manusia, kemudian ia melupakan dirinya (tidak mengamalkan ilmunya) adalah seperti lampu (lilin) yang menerangi manusia, namun membakar dirinya sendiri.” (HR Ath-Thabrani) Baca Juga:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan seorang alim yang mengajarkan kebaikan kepada manusia, kemudian ia melupakan dirinya (tidak mengamalkan ilmunya) adalah seperti lampu (lilin) yang menerangi manusia, namun membakar dirinya sendiri.” (HR Ath-Thabrani)

Demikian pentingnya adab dan poin mengenai adab dalam menuntut ilmu. Semoga kita semua dapat mengamalkannya. Amiin. (rin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
Infaq Dakwah Quran BSM 7133370147INFAQ SEKARANG
+ +
WhatsApp chat