Menggunakan Al Quran Digital, Ini yang Harus Diwaspadai

www.griyaalquran.id Di era digital ini, perkembangan teknologi memiliki dampak baik bagi umat Muslim. Salah satunya, kita mudah sekali membaca dan mendengarkan Al Quran digital. Meski demikian, ada hal yang perlu diwaspadai. Berikut ulasannya.

Kehadiran Al Qur’an digital mempermudah umat Muslim dalam membaca Al Qur’an. Tak hanya membaca, aplikasi Al Qur’an Android juga memudahkan mengetahui waktu sholat, terjemah bahkan suara qori’ dari seluruh dunia.

Baca Juga: 4 Tipe Manusia Saat Berinteraksi dengan Al Qur’an

Mendapatkan aplikasinya juga sangat mudah, tinggal klik instal, selesai, gratis lagi.  Mengutip dari republika.co.id, Karmila stylish hijab, mengaku suka membaca Al Qur’an digital karena ketika ia ingin mencari salah satu ayat, maka tinggal memasukkan kata kunci dan mesin pencari akan bekerja. Tak perlu membolak-balik lembaran seperti pada Al Quran cetak.

Kekurangan Al Quran Digital

Meskipun begitu, penggunaan Al Qur’an cetak juga masih banyak diminati. Karena dianggap lebih nyaman ketika membacanya dan tajwid yang terdapat pada Al Qur’an cetak lebih jelas dibanding Al Qur’an digital. Apalagi, validitas Al Qur’an versi cetak lebih terjamin daripada versi digital.

Hal ini dikarenakan beberapa aplikasi Al Qur’an digital ada yang belum melalui proses pentashihan. Sehingga kemungkinan dapat terjadi kesalahan atau kekeliruan dalam pembuatannya. Proses pentashihan sendiri diperlukan Al Qur’an untuk divalidasi kebenaran bahasa Arab dan Indonesa oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Al Qur’an (LPMA).

Karenanya, masyarakat perlu berhati-hati ketika membaca Al Qur’an melalui media digital. Jika menemui bacaan yang meragukan terkait kebenaran dalam tulisan atau terjemahannya, maka sebaiknya melakukan verifikasi dengan Al Qur’an cetak yang sudah ditashih oleh Kementrian Agama (Kemenag).

Baca Juga: Begini Tips Mengajak Keluarga Gemar Membaca dan Menghafal Al Quran

Kurang lebih ada sekitar 240 aplikasi Al Qur’an digital yang tersebar. Selain itu, Kemkominfo juga melansir, ada sekitar 51 juta situs yang saat ini memuat Al Qur’an online, dengan jumlah situs yang sangat banyak itu, masyarakat harus mewaspadai maraknya Al Qur’an online tersebut.

Ustadz Nur Hasan, Direktur Griya Al Qur’an bersyukur dengan kian mudahnya masyarakat mengakses Al Qur’an. “Kemudahan ini, in syaa Allah menambah berkah, memasyarakatkan Al Qur’an, dan megundang malaikat rahmah di tempat-tempat kita,” katanya.

Meski demikian, ia meminta masyarakat untuk tetap berhati-hati, karena Al Qur’an versi digital masih belum ditashih. Ia mengatakan bahwa masyarakat harus kritis, jika ada yang dirasa kurang pas bacaannya, harus segera dibandingkan dengan Al Qur’an cetak.

“Untunglah, saat ini semakin banyak bermunculan para penghafal Al Qur’an, para penjaga Al Qur’an. Kalo ada kesalahan penulisan, alarmnya pasti bunyi,” katanya.

Karenanya, Nur Hasan menghimbau masyarakat agar mulai berusaha menghafal Al Qur’an dan menjadi penjaga kitab Allah. Ia kemudian mengatakan bahwa kini menjadi penghafal Al Qur’an tidak lagi didominasi santri-santri pondok, siapapun bisa menghafal.

Sebagian para penghafal Al Qur’an di Griya Al Qur’an, ia menambahkan, justru memulai menghafal di usia 40 tahun ke atas. Kini mereka sudah, berhasil menghafal di atas 10 juz.

Alangkah mulianya jika kita yang berusaha menjadi penjaga-penjaga Al Qur’an. Yang sulit adalah memulainya, jika sudah mulai, akan lebih gampang meneruskannya,” katanya. (Gth)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
Infaq Dakwah Quran BSM 7133370147INFAQ SEKARANG
+ +
WhatsApp chat