Dr. Aslam: Dulu Saya Merasa Bacaan Al Qur’an Saya Benar

www.griyaquran.org- Belajar membaca Al Qur’an, berbeda dengan ilmu lain yang bisa otodidak. Belajar Al Qur’an harus mempunyai guru. Yang sering terjadi, kita merasa bacaan kita sudah benar, padahal di sana-sini masih banyak perbaikan. Dr. Aslam Mei Nur Widagdo, MM, salah satu santri Griya Al Qur’an di PT Sucofindo Jakarta mengakuinya.

“Dulu saya merasa bacaan Al Qur’an saya, sudah benar. Ternyata, masih banyak salahnya,” kata Kepala Bagian Solusi Perdagangan PT Sucofindo ini sambil tertawa. Hal itu ia rasakan setelah mengikuti placement test sebelum dimulainya program ISQ (In House Studies Qur’an) yang digelar Griya Al Qur’an di PT Sucofindo yang terletak di Jalan Raya Pasar Minggu, Jakarta itu.

“Alhamdulillah, saat itu saya masuk di kelas dasar 2,” ujarnya menceritakan kejadian 3 tahun lalu. Kelas dasar 2 di Griya Al Qur’an yang kini berubah nama menjadi tahsin 2, berkonsentrasi pada pembenahan Panjang pendek bacaan dan makhorijul huruf.

Menurutnya, belajar itu tidak ada batasan umur, kapan saja, di mana saja, dan harus dilakukan sesegera mungkin. “Setiap orang harus memperbaiki diri. Kita di dunia ini sementara, di akhirat yang panjang,” kata pria kelahiran 22 Mei 1965 itu. Menurutnya, salah satu yang harus diperbaiki dalam agama Islam adalah cara membaca Al Qur’an yang baik dan benar.

“Pengetahuan agama yang lain memang penting, tapi Al Qur’an adalah pondasi dari ilmu-ilmu itu. Al Qur’an nantinya akan jadi lampu, jadi penerang di alam kubur. Itulah yang akan jadi amalan kita,” kata pria asli Malang itu.

Sebuah hadist, manusia yang terbaik adalah yang belajar dan mengajarkan Al Qur’an. Saya termasuk yang belajar. Tidak ada ruginya kita terus berusaha belajar untuk memperbaiki bacaan Al Qur’an.

Setelah 3 tahun berjalan belajar Al Qur’an, Aslam kini sudah pada tahap tahfidz. Ia mengaku pas dengan metode pembelajaran Griya Al Qur’an. “Metodenya sangat sistematis. Kita tidak hanya diajari bagaimana cara membaca yang benar, namun juga diajari bagaimana membiasakannya.”

Kemudahan metode Griya Al Qur’an itulah yang membuatnya berani memprovokasi orang lain untuk turut belajar Bersama Griya Al Qur’an. “Direktur saya dulu, yang sekarang sudah pensiun, berhasil saya provokasi. Beliau ternyata cocok, karena metode pembelajarannya sangat sistematis,” aku Aslam sambil tersenyum. (wir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
Infaq Dakwah Quran BSM 7133370147INFAQ SEKARANG
+ +
WhatsApp chat