Menengok Perang Badar, Perang yang Berlangsung Saat Ramadan

www.griyaalquran.id- Jika ada yang mengeluh bahwa menjalankan puasa itu berat, sebaiknya kita membaca ulang sejarah Islam. Di zaman Nabi, beberapa perang justru, termasuk Perang Badar berlangsung saat Ramadan. 

Dalam sejarah Islam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan umatnya menjumpai peperangan yang terjadi di bulan Ramadan, yakni Waq’atul Badr (Perang Badar) dan Fathu Makkah (Pembebasan Makkah). Bagaimanakah peperangan tersebut dilalui di tengah Ramadan? Mari simak ulasan berikut.

Puasa Ramadan mulai disyariatkan di tahun kedua hijriah, dan Rasulullah sepanjang hidupnya bertemu dengan sembilan kali bulan puasa. Dalam catatan Imam Abu Ja’far al-Thabari, puasa Ramadan mulai disyariatkan di tahun yang sama dengan diubahnya arah kiblat shalat, dari menghadap Baitul Maqdis (Yerussalem) ke arah Baitul Haram (Ka’bah).

Perang Badar sendiri terjadi di bulan Ramadan, tahun pertama umat Islam diwajibkan berpuasa di dalamnya. Mengenai hari atau tanggalnya, para ulama berbeda pendapat. Sebagian ulama berpendapat, “kânat waq’atu badr yauma tis’ah ‘asyar min syahri ramadlân—perang Badar terjadi di hari ke sembilan belas bulan Ramadhan,” (Imam Abu Ja’far bin Jarir al-Thabari, Tarîkh al-Thabarî: Tarîkh al-Umam wa al-Mulûk, 2011, juz 2, h. 19).

Dalam riwayat lain dikatakan, “anna waq’ata badr kânat yaumal jumu’ah shabîhah sab’a ‘asyrata min syahri ramadhân—perang Badar terjadi di hari Jum‘at pagi, (hari) ketujuh belas dari bulan Ramadan”. (Imam Abu ‘Umar Yusuf al-Qurthubi, al-Istî’âb fî Ma’rifah al-Ashhâb, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyyah, 2010, juz 1, h. 137). 

Hal ini menunjukkan bahwa puasa Ramadan telah disyariatkan satu bulan sebelum perang Badar terjadi. Karena menurut banyak riwayat, perang Badar terjadi di bulan Ramadan, sedangkan syariat wajibnya puasa turun di bulan Sya’ban. Imam Abu Ja’far al-Thabari menulis:

Abu Ja’far berkata: ‘dan di tahun inilah—seperti yang disebutkan di atas—(mulai) diwajibkannya puasa Ramadan.’Dikatakan: ‘sesungguhnya puasa (mulai) diwajibkan di bulan Sya’ban dari tahun (kedua) ini.” (Imam Abu Ja’far bin Jarir al-Thabari, Tarîkh al-Thabarî: Tarîkh al-Umam wa al-Mulûk, juz 2, h. 18) 

Kewajiban Berpuasa Gugur Kala Perang Badar

Mengenai kewajiban berpuasa saat akan terjadi perang badar, Rasulullah meningkatkan level urgensi untuk berbuka atau tidak puasa dari yang mulanya sebagai rukhsah (dispensasi) menjadi perintah (sebuah keharusan), sehingga semua sahabat membatalkan puasanya dan berbuka. 

Banyak riwayat yang membahas persoalan ini, salah satunya adalah riwayat Imam al-Tirmidzi:

Dari (Sa’id) bin Musayyab, sesungguhnya ia ditanya soal puasa di waktu perjalanan, lalu ia menceritakan (sebuah riwayat) bahwa Umar bin Khattab berkata: “Kami berperang bersama Rasulullah di bulan Ramadhan sebanyak dua kali, yakni perang Badar dan pembebasan Makkah, dan kami berbuka (tidak berpuasa) di kedua peperangan tersebut.” (Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Zâd al-Ma’âd, Beirut: Muassasah al-Risalah, 1994, juz 2, h. 52) 

Riwayat di atas menjelaskan bahwa Rasulullah dan para sahabatnya tidak berpuasa di saat berperang, baik di perang Badar maupun Fathu Makkah (pembebasan Makkah). Meski demikian, ada riwayat Imam Muslim lain yang isinya sedikit berbeda. 

Dari Abu Sa’id al-Khudri radiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Kami berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada tanggal enam belas Ramadhan. Di antara kami ada yang berpuasa, ada pula yang berbuka. Orang yang berpuasa tidak mencela orang yang berbuka, dan orang yang berbuka tidak mencela orang yang berpuasa.” (Imam Ibnu Mulaqqin, al-Badr al-Munîr fî Takhrîj al-Ahâdîts wa al-Âtsâr al-Wâqi’ah fî al-Syarh al-Kabîr, Riyadh: Darul Hijrah, 2004, juz 5, h. 716) 

Dua riwayat tersebut tidaklah bertentangan, melainkan memiliki objek pandang yang berbeda. Hal itu diidentifikasi dari kisah lain yang diriwayatkan Imam Muslim, bahwa ketika sampai di Kura’ al-Ghamim (tempat di antara Makkah dan Madinah), rombongan (Fathu Makkah) kelelahan, sehingga Rasulullah meminta satu kantong air setelah shalat ashar dan meminumnya di depan muka umum. 

Kemudian salah satu sahabat berkata kepadanya, “inna ba’dlan nâs qad shâma—sebagian orang masih tetap berpuasa.” Rasulullah menjawab, “ûlaikal ‘ushâh, ûlaikal ‘ushâh—mereka adalah orang yang bermaksiat.” Ini menunjukkan pentingnya menerima rukhsah (keringanan) dari Allah dan tidak memberatkan diri sendiri, sampai Rasulullah menggelari orang yang tetap berpuasa sebagai pelaku maksiat, tentu saja tujuannya agar mereka semua berbuka. 

Dalam riwayat lain, Rasulullah memerintahkan para sahabatnya secara langsung untuk berbuka, dengan tujuan untuk memperkuat diri saat menghadapi musuh. Bisa dikatakan riwayat ini adalah kelanjutan dari riwayat sebelumnya. Berikut riwayat Imam Muslim:

(Abu Sa’id al-Khudri berkata): “Kami berpergian bersama Rasulullah menuju Makkah—yakni dalam tujuan pembebasan kota Makkah—dan kami berpuasa. Kami singgah di sebuah tempat, maka Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya kalian telah dekat dengan musuh, dan berbuka lebih menguatkan kalian.” Ini merupakan rukhsah (disepensasi/keringanan), karena itu sebagian dari kami tetap berpuasa, dan sebagian lainnya berbuka.

Kemudian kami singgah di tempat lainnya, Rasulullah (kembali) bersabda: “Sesungguhnya kalian sudah berada di depan musuh, dan berbuka lebih menguatkan kalian, maka berbukalah.” Dan ini bukanlah rukhsah (keringanan/disepensasi), maka kami pun berbuka.” (Imam Ibnu Mulaqqin, al-Badr al-Munîr fî Takhrîj al-Ahâdîts wa al-Âtsâr al-Wâqi’ah fî al-Syarh al-Kabîr, 2004, juz 5, h. 720-721) 

Pembebasan Makkah akhirnya terjadi pada bulan Ramadan. Imam al-Waqidi berkata, hal itu terjadi di tahun ke-8 hijriah, dan Rasulullah bermukim di Makkah sampai hari raya Idul Fitri. (Imam Ahmad bin Yahya al-Baladzuri, Futûh al-Buldân, 1988, h. 49).

Di Sela Kesibukan Berperang Masih Mencari Malam Lailatul Qadr

Para sahabat Nabi atau generasi pertama Islam memang generasi terbaik. Di saat genting dan terpepet sekalipun, mereka tetap menjalankan ibadah sebagaimana mestinya. Mereka tidak goyah dan takut dengan ancaman yang menghadang di depannya. Ini ditunjukkan oleh banyaknya riwayat yang mengaitkan lailatul qadr dengan yaum badr (hari perang Badar).

Sayyidina Abdullah bin Mas’ud mengatakan, “Kalian carilah lailatul qadr di malam ke-19 bulan Ramadan, karena sesungguhnya (malam ke-19) adalah malam perang Badar.” (Imam Abu Ja’far bin Jarir al-Thabari, Tarîkh al-Thabarî: Tarîkh al-Umam wa al-Mulûk, juz 2, h. 19) 

Riwayat di atas menggabungkan lailatul qadr dengan lailatul badr (malamnya perang Badar). Artinya, para sahabat merasakan pengalaman spiritual di malam perang Badar yang mereka bawa ke medan perang. Pengalaman spiritual ini yang membuat mereka meningkatkan ibadah mereka di bilangan ganjil tertentu. Mereka mendasarkan pengalaman di malam Badar sebagai ciri bahwa lailatul qadr tidak jauh dari sekitar itu. 

Sayyidina Kharijah bin Zaid bin Tsabit menceritakan, “Sesungguhnya (ayahnya, Zaid bin Tsabit) tidak menghidupkan malam di bulan Ramadhan seperti halnya ia menghidupkan malam ke-19 dan ke-23, sampai terlihat pucat wajahnya karena tidak tidur.” Kemudian seseorang mengatakan itu kepadanya, lalu ia berkata: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah memisahkan di antara yang hak dan yang batil di pagi harinya (malam ke-19/ke-23).” (Imam Abu Ja’far bin Jarir al-Thabari, Tarîkh al-Thabarî: Tarîkh al-Umam wa al-Mulûk, juz 2, h. 19) 

Maka dari itu, kita harus bisa meneladani para sahabat nabi. Mereka menjalani puasa Ramadan di saat-saat sulit, meski secara lahir mereka tidak berpuasa (berbuka), tapi secara hakikat, mereka terus berpuasa. Artinya, dalam keadaan perang sekalipun, mereka mampu menahan diri dari amarah, kebencian, dan kedengkian. 

Hal itu dibuktikan dengan perlakuan mereka terhadap penduduk Makkah yang penuh kasih sayang. Misal pun ada yang bersikap keras, nasihat Rasulullah seketika mengubahnya menjadi orang yang pengertian. Untuk itu, pengendalian diri bukan melulu soal kemampuan mengendalikan diri sendiri, tapi juga kemampuan menerima nasihat baik dari orang lain. Itulah mengapa kita harus berpuasa. Wallahu a’lam bish shawwab. (nin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
Infaq Dakwah Quran BSM 7133370147INFAQ SEKARANG
+ +
WhatsApp chat