Mengenal Idarah, Tradisi Membaca Al Qur‘an Secara Bergiliran

www.griyaalquran.id- Bulan suci Ramadan akan tiba. Selain berkewajiban untuk berpuasa selama satu bulan ini, Rasulullah pun berpesan untuk memperbanyak kebaikan, seperti memperbanyak membaca Al Qur‘an. Biasanya, anjuran ini dilakukan secara bersama-sama atau yang disebut idarah.

Idarah merupakan satu di antara jenis membaca Al Qur‘an bersama-sama atau yang di Indonesia dikenal sebagai tadarus. Ini merupakan tradisi yang biasa dilakukan masyarakat Indonesia di bulan Ramadan, yaitu bersama-sama membaca Al Qur‘an secara bergiliran, sebagian membaca satu maqra’ yang lain menyimak, setelah selesai dilanjutkan maqra’ berikutnya oleh peserta tadarus yang lain, dan begitu seterusnya.

Baca Juga: Do‘a-do‘a Fenomenal Nabi Ibrahim Ini Diabadikan dalam Al Qur‘an

Tradisi ini baik dan tidak ada masalah menurut mayoritas ulama. Dalam sebuah hadits Shahih sendiri dijelaskan, bahwa setiap kali bulan Ramadan, Malaikat Jibril bertadarus Al Qur‘an bareng bersama Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Al-Imam Ali bin Muhammad al-Ujhuri dalam kitab Fadlail Syahri Ramadan hal.118 pun menjelaskan yang artinya:

Fasal menjelaskan bergilir membaca Al Qur‘an, yaitu dengan cara sekelompok orang berkumpul, sebagian dari mereka membaca satu bagian, yang lain menyimaknya, dan setelah selesai, sebagian yang lain meneruskan bacaan sebelumnya dengan disimak oleh yang lain, begitu seterusnya. Hal semacam ini boleh dan baik dilakukan. Al-Imam Malik pernah ditanya mengenai tradisi ini, dan beliau menjawab ‘tak ada masalah’.”

Dalam sebuah hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Dan tidaklah kaum berkumpul dalam satu rumah dari beberapa rumah Allah, seraya membaca kitab Allah dan saling bertadarus di antara mereka kecuali turun ketenangan atas mereka, rahmat menaungi mereka, para malaikat mengitari mereka dan Allah menyebut mereka di dalam golongan orang yang dekat di sisi-Nya.” (HR.Muslim)

Baca Juga: Ibu Ini Menghafal Al Qur’an Demi Anak

Terkait ihwal hadits tersebut, al-Imam al-Nawawi sebagimana dikutip Abu Abdillah Muhammad bin Yusuf al-Abdari dalam kitab al-Taj wa al-Iklil berkomentar:

Dalam hadits tersebut terdapat petunjuk diperbolehkannya membaca Al Qur‘an dengan cara bergilir. Dan ini adalah pendapat madzhab Syafi’i dan mayoritas ulama’. Dan Imam Malik menghukumi makruh. Sebagian ashab madzhab Maliki di antaranya Imam Ibnu Rusydi mengarahkan pendapat Imam Malik karena hal tersebut merupakan perkara yang baru dan realita yang terjadi waktu zaman Imam Malik rawan dimanfaatan untuk dirangkai dengan lagu-lagu yang dilarang. Dari sini sisi pandang hukum makruh menjadi jelas.

Maka dari keterangan di atas dapat disimpulkan, persoalan idarah ini terdapat perbedaan di kalangan ulama’. Menurut mayoritas ulama diperbolehkan, dan menurut Imam Malik makruh. Kita menghormati kedua pendapat tersebut, tanpa harus mencela pihak lain yang berbeda pandangan.

Baca Juga: Inilah Program Unggulan Griya Al Qur’an Saat Ramadhan

Demikian semoga di bulan suci Ramadan ke depan kita dapat istiqomah menjalankan anjuran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam membaca Al Qur‘an, terlebih dengan menghayati makna-maknanya. (nin)

One thought on “Mengenal Idarah, Tradisi Membaca Al Qur‘an Secara Bergiliran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
Infaq Dakwah Quran BSM 7133370147INFAQ SEKARANG
+ +
WhatsApp chat