Inilah Nasihat Al Qur’an tentang Umur

www.griyaalquran.id- Kalau mau jujur, kita lebih banyak menghabiskan waktu untuk sesuatu yang tidak bermanfaat. Kita lebih banyak bermain daripada belajar. Kita lebih banyak bersenda gurau daripada berfikir. Kita lebih banyak menghabiskan waktu untuk dunia daripada akhirat. Padahal, umur ummat Nabi Muhammad saw. tidak lama.

Dalam banyak riwayat hadits dijelaskan bahwa umur umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lama, kisaran antara 60 tahun sampai 70 tahun. Sebagaimana hadits Nabi dari Abu Hurairah r.a, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَعْمَارُ أُمَّتِـي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ

“Umur umatku antara 60 dan 70 tahun, sedikit dari mereka yang melampauinya”(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Baca Juga: Tergesa-gesa yang Diharuskan dalam Al Qur’an

Berbeda dengan umur umat Nabi-nabi sebelumnya yang rata-rata umurnya puluhan bahkan ratusan tahun lebih panjang. Hal ini menunjukkan bahwa kita sebagai umat Nabi Muhammad harus bisa memanfaatkan umur yang pendek ini untuk memuliakan diri dihadapan Allah dengan ilmu dan ibadah.

Karenanya jika umur yang pendek ini tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya, maka waktu akan terbuang sia-sia. Dan waktu yang telah berlalu tidak akan bisa kembali, dia akan pergi selamanya dengan segala kenangannya; baik kenangan yang buruk maupun yang menyenangkan. Manusia harus memanfaatkan waktu dan hanya orang-orang yang mampu memanfaatkan waktu dengan baik yang akan jadi mulia.

Maka dari itu Imam Ghozali memberikan nasehat bahwa ada 1 hal yang selalu menjauh dari kita yaitu “Waktu”. Waktu adalah sebuah anugerah, manusia menerima kesempatan waktu untuk hidup di dunia ini untuk mencapai tujuan-tujuan akhirat.

Baca Juga: Ini Metode yang Banyak Dipakai Anak-anak Gaza untuk Menghafal Al Qur’an

Sebagaimana Islam mengajarkan bahwa kehidupan dunia ini adalah ladang yang harus dikerjakan serius untuk masa panen di akhirat kelak. Karena itu sifat waktu dunia adalah sementara, sedangkan sifat waktu akhirat adalah kekal abadi.

Islam mengutamakan kehidupan akhirat di atas kehidupan dunia. Al Qur’an melukiskan kehidupan dunia dengan istilah “tempat permainan” belaka. Di surat Al Ankabut ayat 64 Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya,

وَمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.”

Kalimat “kehidupan dunia ini merupakan senda gurau dan main-main” bukan berarti kita dianjurkan untuk berbuat seenaknya di dunia ini layaknya sebuah permainan. Redaksi tersebut dimaksudkan untuk menggambarkan bahwa kehidupan dunia ini tidak sejati, tidak kekal dan penuh dengan tipuan. Karena itu, maknanya justru seseorang harus lebih banyak mencurahkan perhatian kepada kehidupan akhirat.

Baca Juga: Qur’an Cordoba Cari Trainer Penghafal Al Qur’an di Griya Al Qur’an

Lantas apa yang harus dilakukan agar kesempatan hidup di dunia ini berkualitas? Al Qur’an telah memberikan garis bahwa tujuan diciptakannya manusia adalah untuk mengabdi secara total kepada Allah. Sebagaimana Allah berfirman di dalam surat Adz Dzariyat ayat 56 yang artinya,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.

Allah tidak menciptakan jin dan manusia untuk suatu manfaat yang kembali kepada Allah. Mereka diciptakan untuk beribadah kepada-Nya. Dan ibadah itu sangat bermanfaat untuk diri mereka sendiri. Pengertian ibadah itu pun sangat luas, tak sekadar ritual kepada Allah (seperti shalat, puasa, haji, dsb.) melainkan meliputi pula kebaikan-kebaikan yang membawa kemaslahatan bagi orang lain.

Memanfaatkan umur di dunia ini menjadi sangat penting karena waktu terus berjalan dan tak akan bisa terulang kembali. Manusia dituntut untuk memaksimalkan waktu atau kesempatan yang diberikan untuk perbuatan-perbuatan yang bermutu, sehingga tidak menyesal di kehidupan akhirat kelak.

Orang-orang yang menyesal di akhirat digambarkan oleh Al Qur’an merengek-rengek minta kembali agar bisa memperbaiki perilakunya, Allah berfirman di surat Al Mukminun ayat 99-100 yang artinya,

حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (99) لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (100)

“(Demikian keadaan orang-orang yang durhaka itu) hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal shaleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak, Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan dihadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.”

Semoga kita menjadi pribadi orang-orang yang mampu menunaikan sisa umur kita dengan sebijak-bijaknya dan terhindar dari perbuatan dan perkataan yang sia-sia. Aamiin. Wallahu a’lam bisshawab.{}

Oleh: Aziz Sulthon, Manajer Sahabat Tahfidz Griya Al Qur’an

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
Infaq Dakwah Quran BSM 7133370147INFAQ SEKARANG
+ +
WhatsApp chat