Membaca Ta’awudz Sebelum Membaca Al Qur’an, Wajibkah?

www.griyaalquran.id- Meski para jumhur ulama menganjurkan bagi orang yang hendak membaca Al Qur‘an untuk membaca ta’awudz atau isti’adzah, namun para ulama berpendapat ta’awudz bukan merupakan bagian dari Al Qur’an. Tetapi sebagian riwayat menyatakan anjuran itu tidak sekadar anjuran yang bersifat tanpa tuntutan, melainkan anjuran bersifat keharusan, yaitu wajib. 

Dengan merujuk pada ayat 200 Al Qur’an Surat Al-A’raf, ayat 98 Surat an-Nahl, ayat 56 Surat Ghafir, dan ayat 36 Surat Fussilat, (فَاسْتَعِذْ بِاللهِ), maka terdapat beberapa hal yang terkait dengan ta’awudz.

Hukum Membaca Ta’awudz

Mengenai hukum membaca isti’adzah para ulama berbeda pendapat. Hal ini didasarkan pada kalimat perintah (amr) yang terdapat pada ayat 98 Surat al-Nahl (فَاسْتَعِذْ بِاللهِ).

Menurut jumhur ulama dan para ahli qira‘at, kalimat amr dalam ayat di atas mengindikasikan arti sunnah, maka tidak berdosa bagi orang yang tidak membaca ta’awudz.

Baca juga: Hukum Penafsiran Al Qur’an Berlandaskan Opini Belaka

Rasulullah pun tidak memberikan tuntunan yang mengharuskan untuk membaca ta’awudz, meski Rasulullah mengajarkan mengenai cara baca ta’awudz. Namun hal tersebut tidak diharuskan. Pendapat ini kemudian oleh banyak kalangan dianggap seperti ijma’. 

Sedangkan sebagian ulama yang menghukumi wajib membaca ta’awudz ialah karena kalimat perintah dalam ayat di atas menunjukkan arti yang hakiki, yaitu harus dilaksanakan dan tidak ada petunjuk yang dapat mengubah perintah tersebut.

Namun, Imam Fakhruddin al-Razi bersikukuh berpendapat bahwa secara tekstual, ayat di atas menunjukkan perintah yang harus dilaksanakan. Hal ini diperkuat bahwa Rasulullah tidak pernah meninggalkan membaca ta’awudz.

Oleh karena itu, berdosalah bagi orang yang tidak membaca ta’awudz. Selain itu, sebagian riwayat juga menyatakan bahwa kewajiban membaca isti’adzah ini hanya berlaku untuk Rasulullah, bukan untuk umatnya. 

Waktu Membaca Ta’awudz

Merujuk pada ayat 98 Al Qur’an Surat an-Nahl, maka membaca ta’awudz dilakukan setelah membaca Al Qur‘an, sebab menggunakan bentuk masa lampau (madhi). Namun, jumhur ulama berpendapat bahwa membaca isti’adzah dilakukan sebelum membaca Al-Qur’an.

Baca juga: Dibuka!! Cabang Baru Griya Al Quran di Wilayah Ampel

Hal ini dianalogikan dengan ayat 6 Surat al-Maidah tentang wudu, meskipun dalam ayat di atas berbentuk masa lampau (madhi) namun kandungan artinya bermakna akan datang (mustaqbal).

Untuk mengetengahkan pendapat yang saling berseberangan di atas, ada yang berpendapat, sebaiknya ta’awudz dibaca sebelum dan sesudah membaca Al Qur’an, karena untuk momohon penjagaan dari hal-hal yang buruk sebelum membaca dan menghilangkan rasa ujub ketika selesai membaca.

Cara Membaca Ta’awudz

Isti’adzah atau ta‘awudz disebut bukan bagian dari ayat Al Qur’an. Berangkat dari pernyataan tersebut, sebenarnya apakah boleh mengeraskan suara saat membaca ta’awudz, sementara ia bukan bagian dari ayat Al Qur’an?

Sebagian ulama, terkait cara membaca ta’awudz sendiri ada yang memilih untuk mengeraskan dan ada pula yang memilih untuk merendahkannya. Adapun sebagian besar ulama qira‘at memilih untuk mengeraskan suara ketika membaca ta’awudz, kecuali Imam Nafi’ dan Imam Hamzah yang memilih untuk merendahkan suara ketika membacanya. 

Dari perbedaan di atas, Imam Khalaf al-Husainiy menjelaskan bahwa mengeraskan atau merendahkan suara saat membaca isti’adzah dapat dilakukan sesuai dengan kondisi tententu. Seorang qari’ dianjurkan mengeraskan suara. Seperti apabila membaca di hadapan orang yang menyimak bacaannya, agar penyimak dapat memperhatikan secara seksama dan mengikuti bacaannya sejak awal, serta saat memulai mempedengarkan bacaan kepada seorang guru, supaya seorang guru dapat memperhatikannya dan membenarkan jika terdapat kesalahan.

Seorang qari’ dianjurkan mengeraskan suara. Seperti apabila membaca di hadapan orang yang menyimak bacaannya, agar penyimak dapat memperhatikan secara seksama dan mengikuti bacaannya sejak awal, serta saat memulai mempedengarkan bacaan kepada seorang guru, supaya seorang guru dapat memperhatikannya dan membenarkan jika terdapat kesalahan.

Baca juga: Inilah 7 Adab Berdoa yang Harus Diketahui

Sementara merendahkan suara dianjurkan apabila seorang qori’ bermaksud membaca dengan suara rendah, tidak dalam keramaian, baik hendak membaca dengan suara rendah atau tinggi, jika berada dalam salat, baik salat jahriyah maupun sirriyah, serta membaca ketika berada di tengah-tengah jemaah yang belajar Al Qur’an. Contohnya seperti membaca bergiliran dalam maqra’ah (majelis penghafal Al-Qur’an) (nin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
WhatsApp chat