Menghafal Mudah Jika Memahami Etika Menghafal Al Quran

www.griyaalquran.id- Menghafal Al Quran tidaklah mudah. Meski demikian, jika dilakukan dengan penuh komitmen dan mengindahkan etika saat proses menghafalnya, Allah ta’ala akan memudahkan prosesnya.

Para penghafal Al Quran dijanjikan keberkahan dan kedudukan mulia di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Akan tetapi, bagi sebagian umat Muslim, hal tersulit bukanlah menghhafal Al Quran, melainkan menjaga hafalan tersebut.

Baca Juga: Perlu Tahu, Proses Penamaan Bulan-bulan di Tahun Hijriah

Di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para pemuda juga berlomba-lomba untuk menghafal Al Quran, seperti Amar bin Salamah, al-Barra’ bin ‘Azib, Zaid bin Haritsah dan banyak sahabat muda lainnya.

Hingga saat ini pun, banyak yang mencoba menghafal Al Quran. Dengan izin Allah, tak sedikit dari mereka yang berhasil tuntas menghafalkannya. Di tangan mereka inilah, Al Qur’an terjaga keotentikannya hingga saat ini.

Poin-poin Penting dalam Menghafal Al Quran

Dalam menghafal Al Quran, perlu juga mengingat poin-poin penting bagi para penghafal Al Qur’an. Yaitu sejumlah aturan dan etika dalam proses menghafalnya sehingga mendapat keberkahan dari-Nya. Mengutip Republika, Syekh Qahthan Birqadar pun memaparkan sejumlah pondasi dasar yang harus diperkokoh demi menjaga hafalan tersebut.

Hal pertama yang harus dilakukan untuk menjaga hafalan Al Quran adalah meluruskan niat. Jadikan motivasi satu-satunya menghafal adalah untuk mendapatkan keridhoan Allah subhanahu wa ta’ala, bukan malah berorientasi pada ketenaran dan popularitas yang hanya mementingkan materi dan duniawi.

“Niat duniawi tak akan berbuah manis,” tulisnya. Terdapat sebuah kisah yang tertuang dalam hadis riwayat muslim bahwa mereka yang hanya belajar dan mengajarkan Kitab Samawi dengan tujuan ingin dipuji oleh manusia lain maka akan menerima siksaan.

Baca Juga: 3 Aplikasi Al Quran Digital Bersertifikasi Kemenag

Selain meluruskan niat, Syekh Qahthan juga mengingatkan agar umat Muslim menyempurnakan tugas menghafal Al Quran tersebut dengan praktik dan pengalaman dari nilai-nilai syariah yang terkandung di dalam Al Qur’an.

Dan yang terakhir, tetaplah konsisten untuk mengulang-ulang hafalan atau muraja’ah. Hal itu agar menjadi anugerah hafalan yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala tidak sirna begitu saja.

Ada banyak media yang bisa dilakukan untuk proses muraja’ah. Mulai dari menjadi imam shalat, mendengarkan tilawah melalui MP3, saling bertukar bacaan, dan sebagainya. Tak lupa juga bimbingan dari seorang guru yang berkompeten.

Baca Juga: Begini Sejarah Ditetapkannya Kalender Hijriah

Proses dari menjaga hafalan Al Quran inilah yang justru lebih berat dan sulit dibandingkan menghafal. Sebuah hadis riwayat Bukhari Muslim menyatakan bahwa Rasul pernah menyerukan agar tetap menjaga hafalan Al Quran. “Memelihara hafalan lebih berat ketimbang mengikat seekor unta,” titah Nabi. (HR. Bukhari Muslim)

Jadilah hafiz yang pionir dan selalu terdepan jika berkaitan soal akhlak dan moralitas. Tidak sombong kepada orang lain dan tetaplah tawadhu. Ingatlah bahwa kelak di akhirat, Al Qur’an akan menjadi saksi atas kebaikan dan keburukan umatnya. (Gth)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
WhatsApp chat