Wasiat-wasiat untuk Kita di Surat Lukman (bagian 1)

www.griyaalquran.id- Lukman memang bukan orang biasa. Ia istimewa. Namanya terukir abadi di kitab suci. Mengkin karena itu, surat Lukman, surat ke 31 dari 114 ini menyimpan berbagai wasiat yang seharusnya kita pahami.  

Wasiat 1 ( Larangan Syirik )

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kelaliman yang besar”. (QS. Luqman [31]: 13).

Syirik adalah kezhaliman karena menyembah sesuatu lain yang hina, yakni selain kepada Allah.Ar-Raghib al-Asfahani juga menyatakan bahwa syirik kepada Allah adalah kekafiran yang paling besar.( Ma’jam Mufrad li Alfadz al – Qur’an, karya al- Asfahani, 226).

Baca Juga: Ternyata, Membaca Al Quran Baik untuk Kesehatan

Syirik memiliki berbagai macam bentuk yang bertentangan dengan akal daan merusak kehidupan. Islam di turunkan untuk memerangi segala bentuk kesyirikan.

Wasiat 2 (Berbakti Kepada Orang Tua)

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

 “Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu. ( QS. Luqman [31]: 14).

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. ( QS. Luqman [31]: 15).

Abdullah berkata, aku bertanya kepada Rasulullah, “Perbuatan apa yang paling di cintai Allah?‘ Rasulullah menjawab, ‘Shalat pada waktunya‘ Aku bertannya, lalu apa lagi?’ Rasulullah menjawab, ‘berbakti kepada kedua orang tua.’ Aku bertanya, ‘Lalu apa lagi?‘ Rasulullah menjawab, Jihad fi sabilillah” ( Shahih Bukhari, juz 8, kitab al-Adab, Dar Mathabi’li asy-Sya’bi).

Dari Abdullah bin Umar dia berkata, Rasulullah bersabda, “Di antara dosa yang paling besar adalah ketika seseorang melaknat kedua orang tuanya. ‘ Lalu, sahabat bertanya, ‘Bagaimana cara seorang melaknat kedua orang tuanya ? ‘ Nabi menjawab, ‘ Ketika dia mencela ayah orang lain dan orang lain mencela ayah dan ibunya.” ( Shahih Bukhari, juz 8, halm.3 bab La Yassubbu ar-Rajul Walidaihi, Kitab al-Adab, Dar Mathabi’ li asy-Sya’bi).

Baca Juga: Ragam Cara Membaca Basmalah di Antara Dua Surat

Allah memerintahkan manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya dan berlaku lemah lembut kepadanya, serta mentaati keduanya, selain dalam kemaksiatan kepada Allah, dan menjalin hubungan dengan keduanya, bahkan sekalipun keduanya kafir.

Rasulullah menyebut ibu tiga kali dan menyebut ayah yang keempat kalinya. Hal ini karena beratnya beban seorang ibu saat dia mengandung, menyusui, menyapih dan  merawat anaknya. Tidak seorangpun yang berakal memandang berbuat baik kepada orang tua adalah perilaku tercela atau berbuat durhaka kepada keduanya merupakan perbuatan yang baik. Demikian juga dengan adat kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat luas, sebab jika ada orang yang berbuat baik kepada anda, maka anda memiliki kewajiban untuk membalas kebaikannya, padahal kebaikan mereka ini mungkin hanya kecil, bagaimana dengan kebaikan orang yang telah mengandung anda di perut selama 9 bulan, lalu memberikan air susunya, mencurahkan segala kasih sayangnya, dan merawat anda dengan penuh kelembutan hingga anda tumbuh besar, bahkan bermandi keringat semata-mata demi anda. Dia rela mengorbankan segala yang dimilikinya untuk anda, meskipun nyawa sekalipun.

Lalu, apa balasan yang pantas untuk kebaikan semacam ini ? Balasannya tentu sangat besar, sangat agung, dan tidak seorangpun mampu membalasnya

Al-Qurthubi berpendapat bahwa perintah orang tua terhadap hal-hal yang hukumnya mubah , maka hukum pelaksanaan bagi si anak adalah sunnah, Jika orang tua memerintahkan anak agar mengerjakan hal-hal yang hukumnya sunnah, maka perintah itu semakin menguatkan nilai sunnah perbuatan itu ( Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, Karya Aal-Qurthubi, juz 10,hlm.238 ). Jika kedua orang tua kafir, anak tetap wajib bergaul dan berbuat baik kepada keduanya dengan baik.

Wasiat  3 ( Pengawasan Allah )

يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ

“(Luqman berkata), “Hai Anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha halus lagi Maha Mengetahui.”(QS. Luqman [31]:16).

Tidak ada seorang  pun yang dapat membuatnya lemah, karena Allah maha kuasa atas segala hal. Tidak seorang pun yang berakal yang tidak mengakui kekuasaan Allah. Bagi Allah tidak ada suatu pun yang tersembunyi. Dia mengetahui apa yang mustahil, wajib, dan mungkin, jika kesalahan itu sangat kecil dan tersembunyi di tempat yang tak terjangkau, seperti di relung-relung padang pasir, langit, atau perut bumi, semua itu tidak tersembunyi dari pengetahuan Allah. Niscaya Allah akan menghisab dan memberikan balasannya di hari Kiamat.

Wasiat 4 ( Menegakkan Shalat )

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). ( QS. Luqman [31]: 17 )

Semua Syariat langit menetapkan kewajiban shalat awal mula Rasul dan Nabi. Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap masalah shalat dan memerintahkan agar pemeluknya sungguh-sungguh mendirikannya.

Baca Juga: Gambaran Pemuda Teladan Menurut Al Quran

Rasulullah bersabda, ‘Sesungguhnya, amal hamba yang mula-mula dihisab adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka sungguh dia beruntung dan sukses. Jika shalatnya rusak, maka sungguh dia merugi dan jika dalam shalat fardhunya ada kekurangan, maka Allah berfirman ‘Lihat, apakah hambaku ini mengerjakan shalat sunnah ? ‘ Jika hamba itu mengerjakan ibadah sunnah maka kekurangan ini disempurnakan dengan shalat sunnah ini. Demikianlah, seluruh amal perbuatannya di hisab.” ( sunan Tirmidzi, juz 1 hlm 258, hadits no. 411 )

Shalat hukumnya wajib bagi setiap muslim dan mukalaf berdasarkan al-Quran, sunnah dan ijma’ ulama’, shalat juga mensucikan dari Dosa dan mengantarkan pada derajat tinggi, shalat membantu menolak kegundahan dan menghadirkan ketenangan dalam jiwa dan menanamkan kedamaian dalam hati.

Masih ada beberapa wasiat lain yang menarik, yang akan disambung dalam tulisan berikutnya.

Ditulis oleh Aziz Sulthon, Manajer Sahabat Tahfidz Griya Al Qur’an

One thought on “Wasiat-wasiat untuk Kita di Surat Lukman (bagian 1)

  • September 26, 2019 at 15:32
    Permalink

    It’s a Good information for all of people, a specially for the children and parents. How to become good children and how to become good parents.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
Infaq Dakwah Quran BSM 7133370147INFAQ SEKARANG
+ +
WhatsApp chat